Deideologisasi Paham Radikal Napi Teroris Mendesak Dilakukan

Ayo Berbagi!

SwaraSenayan.com – Kericuhan dan penyanderaan yang terjadi di Rumah Tahanan (Rutan) Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat, pada Selasa (8/5/2018) malam telah berhasil dikendalikan oleh pihak kepolisian pada Kamis (10/5/2018) pukul 2 dini hari. Kejadian yang melibatkan petugas dan narapidana ini mengakibatkan enam orang tewas yang terdiri dari lima anggota Polri dan satu orang narapidana teroris. Total sekitar 40 jam polisi berusaha mengendalikan keadaan.

Menyikapi kejadian tersebut, Ketua Umum Rumah Gerakan 98 Bernard AM Haloho menyatakan belasungkawa yang sebesar-besarnya terhadap korban dari pihak aparat yang gugur dalam peristiwa tersebut dan memberikan dukungan terhadap Kepolisian Republik Indonesia untuk bertindak tegas terhadap para pelaku terror di Mako Brimob tersebut.

“Pertama-tama Rumah Gerakan 98 mengucapkan belasungkawa yang sebesar-besarnya kepada aparat kepolisian yang menjadi korban dalam peristiwa tersebut, Saya berharap Kapolri dapat menjamin pembiayaan keluarga dan anak-anak pejuang Kepolisian tersebut hingga tingkat universitas, dan tentu kami mendukung sepenuhnya langkah tegas yang dilakukan oleh Polri untuk menindak para pelaku terror di Mako Brimob, kita tidak boleh takut akan teror” ujarnya.

Bernard menambahkan peristiwa rusuh di Mako Brimob, yang telah mengakibatkan gugurnya beberapa anggota Polri perlu menjadi catatan dan evaluasi serius. Narapidana kasus terorisme di Mako Brimob mempunyai karakteristik  radikal, sehingga tidak ditempatkan di Lapas yang bercampur dengan napi kriminal atau kasus lainnya.

Karakter radikal ini, tentu saja sangat berbahaya jika berulah, pemicunya bisa apa saja. Para napiter ini berkumpul menjadi satu, karena satu kasus yang mirip dan ideologi radikal yang sama. Jika ada masalah atau ketidakpuasan, maka satu teriakan provokasi bisa mempengaruhi yang lain. Dan akan semakin berbahaya jika mereka adalah eks kombatan, karena mempunyai kemampuan untuk bertempur.

“Narapidana terorisme masih radikal dan terlatih, seharusnya ditempatkan pada tempat khusus yang berada jauh dari masyarakat seperti pulau tersendiri dan sebisa mungkin tidak bisa melakukan interaksi dengan masyarakat agar paham radikal mereka tidak bisa dikembangkan, dan kejadian seperti yang terjadi di Mako Brimob semalam terisolir dan lebih cepat ditanggulangi” tegas Bernard.

Sebelumnya Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan Wiranto menyebut aksi penyanderaan oleh 155 narapidana terorisme di rumah tahanan, kompleks Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, sejak Selasa, sebagai tindakan yang keji dan di luar batas kemanusiaan. Pasalnya, menurut Wiranto, para napi teroris tersebut tidak hanya menyandera, tapi juga merampas senjata, menyiksa dan membunuh aparat kepolisian.

Bernard mengatakan bahwa pihak-pihak terkait harus mampu melakukan pembinaan kepada para napi teroris tersebut supaya paham-paham radikal mereka dapat dipulihkan dan bisa kembali ke masyarakat untuk hidup dengan selayaknya.

“Polri dan instansi terkait juga harus semakin intensif melakukan program pendekatan kemanusiaan, kesejahteraan dan deideologisasi agar mereka tidak lagi berpaham radikal. Harus ada kegiatan produktif sehingga para napiter dapat kembali ke masyarakat dengan baik dan bermartabat” tambahnya Bernard. *AND

Ayo Berbagi!