PROFESI DOSEN: MULIA ATAU HINA, RENDAH ATAU TINGGI

Ayo Berbagi!

sarjana

Oleh: Tajuddin Bantacut (Fakultas Teknologi Pertanian – IPB)

SwaraSenayan.com. Bogor 16 Januari 2017. Sebagian dari rakyat bangsa ini sudah dilumuri lumpur dalam kubangan kesan yang dibangun oleh Ahok dan para pendukungnya bahwa dia dalah manusia super yakni super jujur, super hebat, super kerja keras, super visioner, dan lain-lain. Ahok adalah manusia sempurna yang tidak mempunyai cacat dan kesalahan. Kekeliruan atau kesalahan yang dilakukannya selalu dibela sebagai kekhilafan, ketertundaan, atau ada maksud mulia di sebaliknya.

Bahkan, ketika dia (diduga) menghina Agama Islam dibela (karena sudah terlena dengan kesan super baik atau memang pendukung skenario tertentu yang sedang dijalankan) maka ucapan tersebut bukan hinaan tapi orang lain salah memahami atau berdalih dengan tidak ada niat untuk menistakan meskipun ucapannya bermakna penistaan. Dengan segala pembelaan tersebut, maka Ahok merasa boleh melakukan apapun, memarahi bawahan bahkan rakyat dengan kata kasar yang dimaknai sebagai bertindak tegas dan mendidik.

Ahok sering mengancam untuk memecat bawahannya jik tidak mematuhinya yang dianggap sebagai bertindak tegas untuk membangun kerja keras (memang Ahok tidak mengakui teori manajemen persuatif, karena itu hanya teori). Demikian juga dengan menempatkan lurah nasrani (yang terjadi di masa Gubernur Jokowi) di kawasan mayoritas Islam dibela karena atas nama kapasitas meskipun sesungguhnya melanggar kebhinekaan. Lebih dari itu, ketika anggota DPRD DKI tidak bersepakat dengan APBD yang diajukannya dia menuduh anggota DPR perekayasa dan siluman anggaran, padahal (terlepas dari kualitas anggota dewan tersebut), persetujuan dewan adalah mekanisme yang diharuskan oleh peraturan dan perundang-undangan.

Lebih parah lagi, ketika BPK menemukan dugaan kerugian negara dalam pembelian tanah RS Sumberwaras, lalu dia menuduh bahwa lembaga tersebut ngaco. Semua tindakan tersebut dibela mati-matian oleh para pendukungnya yang kalau tidak karena gelap mata berarti memang bagian dari skenario kroninya.
Keberanian Ahok dalam hina-menghina meluas dan yang terkahir adalah dosen yang disebut sebagai cuma bisa ngomong tapi tidak bisa bekerja dan hanya baik dalam retorika.

Kenapa itu dapat terjadi, karena dia sudah menempatkan diri pada dan didukung sebagai manusia super yang paling hebat dari siapapun yang dia katakan sendiri dalam nota pembelaannya di pengadilan penistaan agama, dia mengatakan: kalau pemimpin harus dipilih atas dasar seiman maka akan terpilih pemimpin yang terburuk dari yang buruk. Ini mengesankan tidak ada yang lebih baik dari dia dan dia hanya satu-satunya pemimpin yang paling baik dan semua orang Islam adalah buruk dan kalau terpilih maka itu adalah yang terburuk dari yang buruk.

Profesi Dosen
Pernyataan Ahok yang merendahkan dosen sudah banyak ditanggapi oleh rekan sejawat baik dari Universitas Dipenogoro Dr. Muhammad Nur, Prof. M. Firdaus dari Institut Pertanian Bogor maupun para politisi termasuk Mas Sandiaga Uno (cawagub yang berpasangan dengan Dr. Anies Baswedan). Oleh karena itu, saya tidak ingin mengulang apa yang mereka sudah sampaikan.

Tugas pokok yang paling utama Dosen adalah mengalihtahukan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni kepada mahasiswanya sehingga mereka (para mahasiswa tersebut) mengetahui, memahami dan dapat mengembangkannya untuk keperluan (akhirnya) masyarakat luas termasuk alam semesta. Oleh karenanya, Dosen mempunyai kewajiban untuk mempelajari, meneliti dan mengembangkan IPTEK dan Seni melalui berbagai kegiatan pendidikan lanjut, penelitian dalam arti yang luas (termasuk menyelesaikan masalah terkini yang terjadi dan dihadapi oleh masyarakat, industri dan dunia usaha). Dosen juga diwajibkan menyebarluaskan pengetahuan dan IPTEK dan Seni melalui publikasi (jurnal, majalah, buku, artikel, seminar dll) selain melalui ruang kuliah.

Mungkin Ahok benar bahwa dengan tugas dan kewajiban yang begitu banyak, dosen digaji tidak sebanding dengan semua kewajiban yang harus dipenuhi (belum lagi urusan administrasi dll). Sebagian besar dari usaha penelitian dan pengembangan ilmu tersebut dilakukan atas ikhitiar sendiri, sedikit sekali dukungan (pendanaan) dari pemerintah. Jadi Ahok mungkin benar kalau merendahkan profesi dosen karena gajinya.
Betul yang dituliskan Dr. Muhammad Nur dari Universitas Diponegoro, menjadi dosen itu karena keterpanggilan untuk mencerdaskan warga dari bangsa ini, bukan untuk mencari kehidupan yang layak.

Saya ingin mengutip tanggapan rekan sejawat saya dari Solo (Ana Husnayanti, saya biasa memanggilanya Mbak Ana) sebagai berikut: “Saya bangga menjadi dosen, membimbing dan membuat putra putri orang tua Indonesia menjadi santun dan pandai”. Jadi, dosen adalah profesi yang dipilih sebagai keterpanggilan yang membanggakan karena menghasilkan lulusan yang cerdas (pandai), santun dan membahagiakan orang tuanya. Sekali lagi, bukan bangga karena deretan titel apalagi bangga karena gaji (yang memang tidak mungkin dibanggakan). Saya dapat memperkirakan, kalau definisi Mbak Ana ini kita gunakan, orang yang paling kecewa adalah para guru dan dosen Ahok karena tidak berhasil mendidiknya menjadi orang yang pandai dan santun.

Stigma bahwa dosen hanya tahu teori tidak tahu praktek, memang sudah lama menjadi “momok” di kalangan sebagian masyarakat. Sekitar 15 tahun yang lalu saya pernah diminta oleh Departemen Pertanian untuk mengisi pelatihan pengembangan Agribisnis dan Agroindustri di Medan. Dalam sesi tanya jawab seorang penanya mengatakan: Bapak telah menyampaikan konsep yang bagus tapi tidak mungkin dapat dilaksanakan bahkan oleh bapak sendiri, jadi bapak cuma besar omong saja.

Saya waktu itu menjawab, bagaimana kalau kita tukar posisi saya menjadi kepala dinas dan bapak menjadi dosen? Sipenanya bingung, lalu saya lanjutkan: saya tidak punya kewenangan untuk melaksanakan konsep yang saya usulkan, kalau bapak mau tukar posisi maka saya yakinkan bahwa konsep tersebut dapat dijalankan. Dalam perspektif ini Prof. M. Firdaus benar bahwa memang bukan kewenangan dosen untuk menjalankan semua program pembangunan. Dosen sesuai dengan kapasitasnya melakukan kegiatan nyata dalam jumlah dan skala terbatas yang sering disebut sebagai pilot project atau prototype.  Saya yakin kalau diberi anggaran sebesar Kantor Dinas maka hasilnya (mungkin) dapat lebih baik. Lalu apa tugas kementerian dan dinas teknis terkait. Ahok keliru dan tidak paham dunia pendidikan (sebagaimana dijelaskan oleh pesaingnya yang Mantan Mendiknas Mas Anies Baswedan).

Saya menyikapi pernyataan si penanya di atas dengan dua perspektif, pertama: si penanya mengakui tidak punya kemampuan untuk menerapkan konsep yang bagus yang menunjukkan rendahnya kapasitas sumberdaya manusia pemerintah (daerah). Kedua, konsep yang baik tersebut terlalu “canggih” untuk dapat diterapkan. Kasus ini menunjukkan pentingnya kerjasama antara perguruan tinggi (pengembang IPTEK dan gagasan dalam arti konsep/rancangan atau penyelesaian masalah) sehingga menghasilkan sinergi antara aparat pemerintah (yang belum sepenuhnya mampu) dengan pemilik gagasan dan konsep sehingga menghasilkan program pembangunan yang benar rancangannya, benar implementasi dan optimal hasilnya. Proses ini bersifat siklus dan iteraktif sehingga terus berulang dan tidak pernah berakhir.

Mulia atau Hina versus Rendah atau Tinggi
Dari uraian dan ceritera di atas dapat disimpulkan bahwa profesi dosen itu mulia karena mereka mencerdasakan kehidupan berbangsa dengan (sebagian besar) ikhtiar sendiri yang hanya dilakukan oleh keterpanggilan jiwanya. Seorang dosen bergelar tertinggi digaji hanya sekitar Rp 20 jutaan dan masih banyak yang digaji Rp 5 jutaan bahkan lebih kecil dari itu. Dengan kondisi seperti itu, tidak ada perbedaan yang nyata kesungguhan mereka dalam menunaikan tugas dan kewajibannya. Jadi mereka mulia meskipun tidak dimuliakan.

Kedudukan dosen dalam khasanah keilmuan adalah yang tertinggi. Mahasiswa belajar kepada dosen. Guru belajar dan dibimbing dosen. Dosen belajar dari dosen. Peneliti beajar dari dosen. Jadi dosen berada berada pada puncak piramida dunia pendidikan. Jadi kedudukan dosen itu tinggi bukan rendah sehingga tidak patut direndahkan meskipun tidak ditinggikan. Ahok keliru merendahkan dosen karena diapun berguru kepada dosen yang mungkin bersedih karena menghantarkannya menjadi Iingsinyur dan Magister Manajemen yang kemudian merendahkan mereka.

Kedudukan dosen yang tinggi tersebut tidak membuat mereka jengah (meskipun ada beberapa oknum dosen seperti itu), mereka tetap menganggap orang lain lebih pintar. Misalnya, seorang dosen agronomi yang sangat senior masih sering belajar kepada petani untuk memperbaiki cara bercocok tanam dan produktivitas tanaman. Demikian juga dosen dari ilmu keguruan dan pendidikan masih banyak yang bertanya dan mengamati guru yang mengajar dengan baik untuk mengambil pelajaran. Jadi, sesungguhnya tidak ada satu manusiapun yang sempurna karena kesempurnaan manusia adalah karena ada kekurangannya.  NO BODY PERFECT BUT A TEAM CAN BE. *SS

 

Ayo Berbagi!