Pedagang Cendol Itu Jadi Perdana Menteri Lagi

Oleh : Djafar Badjeber

SwaraSenayan.com – Dia lahir disebuah Desa di Kedah, Malaysia. Dia anak bontot dari 10 bersaudara. Dia dari keluarga miskin, rumahnya saja terbuat dari rumbia.

Sejak kecil dia sudah terbiasa hidup susah, hidup serba terbatas dan berkekurangan. Namun dia tetap bersekolah. Dia sempat jual cendol, pisang goreng dan bahkan bekerja serabutan menjadi tukang batu.

Itulah Mahatir Muhammad. Siapa sangka dia menjadi orang besar.  Mulai mengenal dan terjun di politik sejak 1957 setelah dia menyelesaikan kuliah di fakultas kedokteran.

Tahun 1964 terpilih menjadi anggota parlemen melalui partai Perikatan.

Karir Mahatir Muhammad terus menanjak, mulai jadi Menteri Pendidikan , Wakil Presiden UMNO ( 1975) , dan terpilih sebagai Presiden UMNO ( 1981).

Dia konsisten dijalur politik karena kecintaannya kepada kaum pribumi/ melayu.

Dia pembela kaum melayu, dan berusaha sekuat tenaga agar kaum melayu bisa lebih sejahtera. Sekalipun dia memperjuangkan kaum pribumi bukan berarti dia rasialis.

Mahatir menjalankan gaya kepemimpinan dari campuran beberapa mazhab namun tidak saling tabrakan. Dia konsisten dengan nasionalisme, kapitalisme, populisme, authorianisme dan juga Islamisme. Semuanya berjalan beriringan dan mulus-mulus saja !

Akibat gaya kepemimpinan seperti itu tidak heran dia menjadi Perdana Menteri selama 22 tahun tanpa terputus !

Mahatir muda belajar politik kepada senior-seniornya seperti T. Abdurrahman, T. Husein On , dan T. Abdul Razak dll. Guru politiknya bukan saja mereka orang Malaysia, tetapi dia belajar dan membaca buku-buku Ir. Soekarno.

Soekarno dianggap sebagai inspiring sekalipun hubungan Indonesia- Malaysia sempat panas !!

Karena kepiawaiannya dalam memimpin Barisan Nasional , dan sentuhan pembangunan infrastruktur mulai dirasakan rakyat. Puncaknya dia membangun gedung kembar tertinggi didunia.

Mahatir memang bapak pembangunan Malaysia. Ekonomi Malaysia tumbuh subur dan perlahan kesehteraan mulai dirasakan seantero Malaysia.

Sekalipun dia berhasil membawa Malaysia kepada perbaikan dan kebangkitan, bukan berarti dia tanpa dikritik.

Mahatir dianggap otoriter, memberlakukan ISA untuk membungkan lawan-lawan politik dan orang yang berbeda dengannya. Dia dianggap mirip Soeharto dalam menjalankan kekuasaannya !

Dia berbeda dengan T Najib Razak, putera dari PM  T. Abdul Razak.

Perdana Menteri Najib adalah anak orang besar. Najib tumbuh dan besar dengan fasilitas orangtua-nya. Dia tidak pernah merasakan susah dalam hidupnya.

Sekalipun PM Najib bermandikan fasilitas dan kekayaan, dia merasa belum cukup. Maka korupsi di era Najib cukup masif !!

Akibat korupsi yang cukup masif itu, disitu startingpoint Mahatir dkk menyusun kekuatan, berkolaborasi membentuk Parakan Harapan. Melalui Parakan Harapan ini, bersama Anwar Ibrahim yang masih di penjara menjungkir balikan PM Najib Razak dalam Pemilu 8 Mei lalu.

Sungguh ajaib, bagaimana tidak seorang tua berusia 92 tahun dan mitranya yang masih dalam tahanan rejim PM  Najib mampu mengalahkan Najib dan Barisan Nasional. Ini sebuah miracle !!

Mungkin baru kali ini Pemilu di Malaysia dibanjiri rakyatnya di setiap TPS. Hampir semua rakyat tergerak hatinya untuk datang ke TPS untuk mendukung partai Parakan Harapan yang dibidani Opa Mahatir. Dalam Pemilu tersebut Barisan Nasional dan PM Najib dibuat jadi “cendol”  !! *SS