Jakarta Tanpa Kemiskinan

Ayo Berbagi!

eq

Oleh: EQ Edysa Girsang

 

SwaraSenayan.com. Kemiskinan adalah kegelapan hidup. Ia menyebabkan penderitaan dan penderitaan yang berkepanjangan. Kemiskinan telah menghancurkan keharmonisan hidup kita.

Kemiskinan di Jakarta tidaklah bisa dipisahkan dari struktural pemerintahan dan kultural masyarakatnya. Seorang peraih Nobel, Saudara Muhammad Yunus meyakini bahwa “Kemiskinan Tidak Termasuk Dalam Masyarakat Beradab“.

Kemiskinan adalah musuh kehidupan. Kita harus membunuhnya bersama-sama. Secara spiritual, kemiskinan cenderung membuat kita mengingkari Tuhan.

Kemiskinan bukan cuma soal tantangan ekonomi, namun lebih sangat fundamental kepada tantangan spiritual. Ini melibatkan seluruh orang. Kita tidak dapat memisahkan kemiskinan fisik dari kemiskinan pikiran, kemiskinan hati dan kemiskinan jiwa.

Menyembuhkan kemiskinan memerlukan sinergi internal yang positif dari setiap bagian dalam sifat hidup kita. Tubuh terdegradasi dan kelaparan, hati tertekan dan tidak dihargai, pikiran tidak mengenyam pendidikan yang cukup, semangat putus asa bahkan hingga pemikiran dari orang yang sepertinya mapan namun mengamini penyingkiran orang tidak berpunya dengan cara diluar peri kemanusiaan, kesemuanya merupakan sinergi negatif, yang selanjutnya kita sebut dengan “KEMISKINAN“.

Sebuah Jakarta yang lebih baik menurut saya, berarti “Jakarta Tanpa Kemiskinan!”.

Disaat membantu mereka melihat diri mereka sendiri sebagai insan berharga yang tak terbatas, maka mereka akan mengadakan perjalanan hidup mereka sendiri keluar dari kemiskinan. Ini adalah pekerjaan gotong-royong yang harus kita lakukan bersama-sama.

Jadi, mari kita ubah paradigma kita, kita ubah cara berpikir kita, kita ubah persepsi kita, kita ubah perilaku kita terhadap orang-orang miskin. Kita tidak harus dilumpuhkan oleh “DILEMA KESALAHAN”. Kita tidak harus menunggu untuk masyarakat berubah. Dengan kesadaran yang hakiki, kita mampu menciptakan perubahan diri kita sendiri!

“Tuhan tidak akan pernah merubah keadaan sebuah masyarakat bila mereka enggan merubahnya sendiri.”

Oleh karena itu, mari kita menjadi sinergis, seperti orang-orang luar biasa, yang melihat masyarakat kita dan melihat itu penyakit sebagai peluang untuk transformasi, sebagai undangan untuk mengubah permainan dan menciptakan masa depan yang lebih baik daripada impian kita itu!

Semoga satu bulan penuh kita berpuasa di bulan ramadhan, mampu melahirkan kembali pribadi yang baru pribadi yang merubah paradigma kita, merubah cara berpikir kita, merubah persepsi kita, merubah perilaku kita terhadap orang-orang miskin. Sehingga Idul Fitri, kita rayakan bukan sekedar perayaan biasa tapi sebuah celebration atas kemerdekaan paradigma negatif, kemerdekaan berpikir negatif, kemerdekaan persepsi negatif dan kemerdekaan perilaku negatif terhadap orang-orang miskin di sekitar kita.

Saya bersama segenap warga jakarta mengucapkan: “Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1437 H, Minal ‘Aidin Wal Fa’idzin, Mohon Maaf Lahir dan Bathin…” ■ss

Ayo Berbagi!