Emrus: Adanya Upaya Masif dari Aktor Tertentu Agar Ketua MK Mundur

Ayo Berbagi!

SwaraSenayan.com. Kegaduhan desakan mundur ketua MK disikapi beragam dari kalangan masyarakat. Lembaga EmrusCorner dalam rilisnya menyatakan adanya upaya masif dari aktor tertentu yang melontarkan isu agar Ketua MK mundur.

“Tindakan komunikasi tersebut jelas dapat menimbulkan tanda tanya besar. Apa di balik upaya permintaan mundur Ketua MK? Menurut saya tidak lepas dari kepentingan yang sangat subyektif dari ‘pemain’ tersebut,” demikian ditegaskan Emrus Sihombing selaku Direktur Eksekutif Lembaga EmrusCorner.

Kalau memang dorongan agar Ketua MK mundur dari jabatanya karena dinilai melanggar etik ringan sebagai alasannya, Emrus menganggap hal tersebut jelas sangat berlebihan. Apalagi yang mendorong tersebut diyakininya merupakan sosok yang punya keterkaitan secara struktural birokrasi di MK.

“Karena itu, latar belakang historis hubungan kerja di MK menjadi sesuatu yang tidak bisa dilepas begitu saja untuk memahami perilaku komunikasi yang meminta Ketua MK mundur. Boleh jadi sosok tersebut selama ini tidak produktif sebagai pekerja di instansi tersebut,” imbuhnya.

Sebab, menurut Emrus, perilaku komunikasi, misalnya mendorong Ketua MK mundur, pasti ditentukan posisi dan kepentingan orang yang memproduksi pesan, sehingga sangat sarat dengan nilai subyektif. Oleh karena itulah, Emrus menduga keras amat sulit dipercaya netralitas dan idelisme dari orang yang mendorong Ketua MK mundur hanya karena pelanggaran etik ringan.

Selain itu, menyatakan bahwa latar belakang psikologi dan sosiologi perlu dibongkar secara holistik mengapa acapkali orang tersebut melemparkan isu agar ketua MK harus mundur? Pertanyaan lanjutan, mengapa orang tersebut seolah memanfaatkan berbagai forum mewacanakan di ruang publik agar ketua MK mundur? Padahal, sanksi pelanggaran etik, apalagi pelanggaran etik ringan, dimana pun tidak sampai pada keharusan mundur.

Menurut Emrus, mengapa ‘pemain’ tersebut begitu ‘bersemangat’ mendorong-dorong agar Ketua MK mundur. Pertanyaan lanjutan, apa agenda dibalik seringnya orang tersebut melakukan tindakan komunikasi agar Ketua MK harus mundur? Ketua MK terus menunaikan tugas negara di MK, tidak menghabiskan waktunya untuk melakukan counter.

Yang jelas, menurut Emrus tidak ada tindakan komunikasi, misalnya permintaan mundur Ketua MK hanya karena pelanggaran etika ringan, berada di ruang hampa. Pasti orang tersebut punya agenda tertentu. Dengan mendorong-dorong mundur Ketua MK, sama saja mereproduksi pesan seolah me-reminder bahwa Ketua MK melakukan pelanggaran etik. Ini suatu tindakan yang sangat-sangat tidak produktif dan sangat disayangkan bisa terjadi demikian.

“Kalaupun ada keinginan tertentu yang belum terpuaskan karena keputusan dewan etik kepada Ketua MK dan ia punya tujuan yang lebih baik, maka orang cukup disampaikan kepada tim dewan etik yang memberikan sanksi pelanggaran etika ringan tersebut dengan meminta penjelasan mengapa diberikan sanksi etik ringan,” paparnya.

Sebab, tambahnya lagi, mereproduksi pesan berkali-kali merupakan perilaku tindakan komunikasi non-verbal yang sarat dengan kepentingan yang ingin dibangun tujuannya bisa saja agar memposisikan Ketua MK tidak nyaman agar citra Ketua MK tergerus.

“Bukankah tujuan tersebut sebagai perilaku komunikasi yang juga tidak etis? Untuk itu, saya menyarankan, sebaiknya orang tersebut menghentikan upaya yang sangat tidak produktif tersebut dan jauh lebih baik merintis dan menjalin komunikasi silahturahmi dengan Ketua MK,” pungkasnya. *dam

 

Ayo Berbagi!