Soen Tzu dan Raja Ho Lu dalam Kasus Taman BMW, RSSW dan Reklamasi

Ayo Berbagi!
Prijanto, Pengamat Masalah Ibukota
Prijanto, Pengamat Masalah Ibukota

Oleh: Prijanto (Pengamat Masalah Ibukota)

SwaraSENAYAN.com. Soen Tzu adalah ahli strategi militer China klasik pada zaman Raja Ho Lu. Sampai saat ini, seni berperang Soen Tzu masih menjadi referensi dalam mengatur strategi perang. Walaupun seni berperang tersebut disusun pada 500 tahun sebelum masehi.

Mengapa Soen Tzu bisa membangun angkatan perang yang kuat? Hanya satu kata yang membuatnya dia menjadi Panglima Perang yang hebat. Soen Tzu orang yang memiliki “prinsip dan disiplin”.  Keteguhan dalam prinsip dan disiplinnya, tampak ketika menampik permintaan raja.

Ketika Soen Tzu hendak menghukum kedua selir raja yang cantik-cantik, karena tidak disiplin berlatih, Raja berkata : “Saya merasa puas dengan kemampuan Jenderal dalam melatih. Namun, jika kedua selirku dihukum mati, saya akan kehilangan selera makan dan minum. Saya minta kedua selirku tidak dipancung”.

Soen Tzu menjawab : “Sekali kami mendapat penugasan dari Yang Mulia, maka ada perintah tertentu yang tidak dapat kami laksanakan, sesuai kedudukan kami sebagai Panglima”.

Akhirnya, kedua selir raja tetap dihukum pancung. Raja Ho Lu akhirnya memahami. Walaupun dirinya raja, tetapi tidak boleh intervensi atas tugas yang telah diberikannya kepada Soen Tzu. Itulah prinsip dalam kehidupan bernegara. Suatu prinsip yang diperlukan agar sistem berjalan sesuai aturan.

Kepiawian Soen Tzu melatih prajurit, membuat raja mengangkatnya sebagai Panglima perang kerajaan Wu. Kearah Barat, dia mengalahkan kerajaan Ch’u dan bergerak ke Ibukota Ying. Ke Utara dia menimbulkan ketakutan kerajaan Ch’i dan Chin. Soen Tzu dan Raja Ho Lu menjadi terkenal dan disegani lawan-lawannya.

Dalam konteks penyelesaian dugaan korupsi Taman BMW, RSSW dan Reklamasi Teluk Jakarta, rakyat Indonesia berharap, kiranya sikap Soen Tzu dan Raja Ho Lu bisa memberikan ilham para Komisioner KPK dengan stafnya, Presiden, Menkopolhukam dan para pembantu Presiden lainnya. Dalam penyelesaian kasus  dugaan korupsi hendaknya tetap berpegang kepada Tupoksi masing-masing dan  tidak saling intervensi.

Para Komisioner KPK dengan para pembantunya harus memiliki kesadaran yang tinggi atas jabatan yang diembannya. Jabatan itu adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan kepada rakyat dan Tuhan. Apapun yang terjadi, sebagaimana sikap Soen Tzu, hendaknya para komisioner tidak mudah untuk diintervensi oleh siapapun.

Para Komisioner KPK harus berani menolak dari segala bentuk intervensi. Apakah dari penyelenggara negara, pejabat Partai ataupun pemilik modal, harus ditolak. Tidak perlu takut dan ragu ketika akan menegakkan hukum ditakut-takuti, jangan, nanti kita bisa goncang. Yakinlah, yang goncang adalah dunia korporasi jahat. Tetapi kehidupan  rakyat tidak akan goncang. Justru rakyat akan berterima kasih dan memberikan apresiasi kepada KPK.

Rakyat pun juga berharap kepada bapak Presiden dengan para pembantunya agar memiliki kesadaran yang tinggi sebagaimana Raja Ho Lu. Tugas, wewenang dan tanggung jawab yang diemban para komisioner KPK, hendaknya tidak dicampuri. Siapapun yang terlibat dan harus bertanggung jawab dalam kasus dugaan korupsi Taman BMW, RSSW dan Reklamasi Teluk Jakarta hendaknya diserahkan kepada KPK. Itulah impian rakyat Indonesia.

Semua pihak, jika masih menginginkan negeri ini tetap eksis dalam percaturan dunia internasional, hendaknya penegakkan hukum dalam kehidupan berbangsa dan bernegara harus dilakukan secara profesional, adil dan terus menerus. Jika negeri ini ingin besar, kiranya jiwa Soen Tzu dan Raja Ho Lu perlu untuk kita tiru. Insya Allah.

Ayo Berbagi!