Potret Aceh Terangkum Dalam Buku Kumpulan Puisi Karya Fikar W. Eda

Ayo Berbagi!
Fikar W. Eda, Teuku Nausa Bersama Masyarakat Aceh
Fikar W. Eda, Teuku Nausa Bersama Masyarakat Aceh

SwaraSENAYAN.com.Sepiring Mie Aceh, Secangkir Kopi Gayo, Bertalam Giok Nagan” membuat kita bangga dengan Aceh, dan bangga dengan keragaman yang ada di negeri kita.

Demikian disampaikan Gubernur Aceh Zaini Abdullah dalam sambutan tertulisnya pada peluncuran buku Kumpulan Puisi karya Fikar W. Eda di Aceh Coffee, The Boulevard Café Jl. Fachruddin No 5 Tanah Abang Jakarta Pusat (1/4).

Zaini menegaskan, dari judulnya saja bisa dipastikan kalau buku ini menggambarkan identitas Aceh. Mie Aceh, Kopi Gayo, Giok Nagan adalah tiga ciri khas Aceh yang sudah dikenal dimana-mana.

Lanjut Zaini, bagi wisatawan atau siapa saja yang berkunjung ke Aceh, jika tidak menikmati atau merasakan tiga hal ini, maka kunjungan itu bisa dikatakan belum sempurna.

Karena itu sangat menarik untuk membaca dan menelaah syair-syair yang termaktub di dalam kumpulan puisi Fikar. “Buku ini akan membawa kita hanyut lebih dalam dengan suasana batin yang ada di relung hati masyarakat Aceh,” tuturnya.

Mie Aceh, Kopi Gayo dan juga Giok Nagan bukanlah sekedar makanan dan perhiasan biasa, tapi ia juga merupakan gambaran budaya dan identitas masyarakat Aceh yang sebenarnya. Mie Aceh menjadi sangat istimewa karena mengandung bumbu-bumbu yang sangat khas hasil racikan masyarakat Aceh. Begitu nikmatnya, sehingga muncul isu bahwa Mie Aceh mengandung bumbu dari bahan ganja. Padahal itu sama sekali tidak benar.

“Mitos yang menyebut bahwa Mie Aceh mengandung bumbu dari ganja itu sama sekali tidak benar. Rasa yang berbeda itu semata-mata muncul dari keahlian meracik bumbu dan keahlian memasak,” tutur gubernur.

Kopi Gayo juga begitu, kopi hasil adukan orang Aceh pasti berbeda rasa dengan racikan orang lain, walaupun kandungan dan campurannya sama. Itulah keistimewaan Aceh yang barangkali tidak ada di daerah lain. “Saya sangat bahagia dan bangga sekali, saudara Fikar mampu memaparkan cerita itu kedalam puisi dengan syair yang indah, membuat saya rindu tanah Gayo dan rindu masyarakat di kaki bukit Burnitelong,” kenang Zaini.

Satu lagi keistimewaan Giok Nagan sebagaimana yang ditulis dalam buku tersebut. Nama batu Giok Nagan ini muncul karena berkali-kali menjadi pemenang dalam festival gemstone di tingkat nasional. Keistimewaan batu giok ini bukan hanya dalam bentuknya, tapi juga kandungan yang ada di dalamnya.

Sebuah penelitian ilmiah menyebutkan kalau batu Giok Nagan mengandung kalsium, potesion, besi dan magnesium. Ada keyakinan kalau zat-zat  tersebut memiliki energi yang bermanfaat bagi kesehatan tubuh.

“Saya sendiri belum bisa membuktikan secara ilmiah. Faktanya, Giok Nagan ini termasuk yang diburu banyak kolektor batu dari berbagai daerah, bahkan termasuk kolektor dari Malaysia, Tiongkok, Taiwan, dan Negara lainnya. Jadi jika Anda penggemar batu, tapi tidak memiliki koleksi batu Giok Nagan, berarti hobi itu belum lengkap,” papar Zaini. ■mtq

Ayo Berbagi!