Politik Itu Membelah, Puisi Itu Menyatukan

Ayo Berbagi!
Fikar W. Eda sedang Menikmati Mie Aceh
Fikar W. Eda sedang Menikmati Mie Aceh

SwaraSENAYAN.com. Suasana hingar bingar dengan pengunjung bermotif Aceh, lantunan musik khas Aceh yang mengiringi peluncuran buku Kumpulan Puisi karya Fikar W. Eda berjudul “Sepiring Mie Aceh, Secangkir Kopi Gayo, Bertalam Giok Nagan” di Aceh Coffee, The Boulevard Café Jl. Fachruddin No 5 Tanah Abang Jakarta Pusat (1/4).

Beberapa seniman dan budayawan asal Aceh silih berganti melantunkan puisinya. Puisi mencatat segalanya, puisi adalah tradisi peninggalan leluhur. Peristiwa kehidupan dituangkan dalam baris-baris perih, gembira, juga nyinyir dan lirih. Berisi seruan perdamaian, rekaman bencana dan segala fenomena yang terus mengisi ruang hidup manusia.

Demikian Fikar W. Eda yang pernah menjadi Ketua Komite Sastra Dewan Keseniaan Aceh 1995-2000 dan Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) 2012-2015 kepada SwaraSENAYAN sesaat setelah acara peluncuran buku tersebut (1/4).

Melalui puisi, kata Fikar memperlihatkan semua hal diatas. Keberagaman budaya di Provinsi Aceh, semangat merawat perdamaian, peringatan terhadap bencana, juga semangat religiusitas dan kritik sosial terangkum dengan sangat bersahaja.

“Berbeda dengan politik. Politik itu membelah, namun puisi itu justru menyatukan,” paparnya.

Khusus puisi rekaman bencana, sengaja disertakan kembali, sebagai bentuk kesadaran bahwa kita berada diatas lempeng bumi yang bergerak. Saling bertumbuk dan bergesek, sewaktu-waktu melahirkan gempa bumi, gunung meletus, tsunami, putting beliung, tanah longsor dan sebagainya.

Bagi Fikar yang pernah meraih penghargaan “Tajul Alam” untuk kategori sastra modern dari Pemerintah Aceh dalam Pekan Kebuadayaan Aceh (PKA) V 2009, menganggap puisi bukan sekedar kumpulan kata-kata, melainkan paling tidak memiliki tiga esensi. Pertama sebagai ruang kreatifitas yang mengalirkan rasa bahagia pencipta atau penyair. Kedua menyenangkan hati para pembaca, penonton, penikmat. Dan ketiga, sebagai pencerahan. Begitulah kesenian bekerja.

Mengomentari peluncuruan buku tersebut, Azhari Aiyub Pendiri Komunitas Tikar Pandan Banda Aceh dan Pengelolaan Halaman Budaya Serambi Indonesia berpendapat bahwa karya sastra dapat bertahan di Aceh karena sebagai wadah, sastra dianggap masih mampu melayani hal apapun  seperti kegelisahan, perasaan kehilangan dan trauma, pembawa pesan moral dan impian. Gejolak politik selalu mendapat tempat yang terhormat dalam syair-syair Aceh.

“Fikar mengambil semangat ini, membawa puisi-puisinya memasuki tema-tema besar, bertarung secara terbuka dengan wacana politik dan sejarah,” urai Azhari.

Itu sebabnya lanjut Azhari, puisi-puisi Fikar sangat terikat dengan konteks, dalam hal ini tidak berdiri terpisah dengan peristiwa-peristiwa penting yang terjadi di Aceh dalam kurun 15 tahun terakhir, bahkan terlibat begitu intim. ■mtq

Ayo Berbagi!