Orasi Fahri Hamzah pada Aksi Bela Islam, 4 November 2016 di Depan Istana Negara

Ayo Berbagi!

fahri

UMMAT ISLAM USIANYA LEBIH TUA DARIPADA NEGARA

SwaraSenayan.com. Tampilnya Fahri Hamzah, politisi PKS yang juga sebagai Wakil Ketua DPR RI dalam aksi damai 4 Nopember 2016 lalu mendapat respon beragam dari publik karena statusnya sebagai pimpinan lembaga resmi perwakilan rakyat. Fahri dikritik seharusnya dia menyampaikan kekuatan politik didalam gedung DPR bukan malah memposisikan dirinya sebagai parlemen jalanan. berikut orasi Fahri Hamzah:

Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu’alaikum Warohmatullahi wa Barakaatuh

Para guru masyaikh, para habaib dan tokoh yang hadir pada hari ini.

Pertama kami terima kasih karena diundang oleh Habib Riziq ulama yang datang dan kami berjanji kami untuk datang dan sekarang kami memenuhi janji itu. Inilah parlemen jalanan terbesar di Indonesia. Saya dengan Pak Fadli memimpin parlemen, tapi yang dipimpin oleh para ulama ini adalah parlemen jalanan. Di Indonesia itu ada dua realitas penting. Yang pertama disebut dengan umat. Inilah umat islam, usianya lebih tua daripada negara. Merekalah yang datang dengan sorbannya, dengan jubahnya mengusir penjajah dari muka bumi ini. Tiba-tiba sekarang sorban dan jubahnya mau dihina, bukankah Pangeran Diponegoro dan Tuanku Imam Bonjol berjuang membebaskan negeri ini dengan sorbannya?

Umatlah yang berjuang mengusir penjajah dengan takbir seperti yang dilakukan oleh Bung Tomo tiba-tiba sekarang takbir mau di kriminalisasi, orang bertakbir mau dianggap teroris, umat usianya lebih tua daripada negara. Dan sekarang umat menguasai ruang parlemen jalanan ini.

Saudara presiden Jokowi telah melanggar berkali-kali tidak bisa memberikan rasa nyaman, rasa aman pada umat islam, mencaci maki symbol dan membiarkan orang non muslim menghina symbol-simbol itu. Ini tindakan yang memberikan rasa tidak nyaman terhadap umat dan sekarang kalau umat sekarang bangkit adalah benar dan wajar adanya.

Presiden juga melanggar hukum. Setiap presiden RI ketika disumpah untuk setia kepada hukum dan setia konstitusi negara, pasal 20 UUD 1945, bahwa setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum dan pemerintahan dan wajib menjujung tinggi hukum tanpa ada pengecualian. Kenapa kalau tiba kepada saudara Ahok hukum menjadi tumpul? Jelas ia menerima uang sebagai gubernur incumbent, jelas kasus sumber waras, ada temuan kerugian negara oleh BPK. Tapi ketika tiba orang-orang yang disingkirkan seperti Dahlan Iskan, puluhan juta belum dihitung kerugian negara, langsung ditangkap dan ditahan negara. Dan kita kalau memutuskan menjatuhkan presiden ada dua caranya, sebagai pimpinan dewan, saya akan memberitahu cara yang legal. Ini bukan jalan revolusi, jangankan untuk menjatuhkan seorang Ahok menjatuhkan presiden Jokowi pun sudah ada aturannya.

Ketika presiden terpilih secara konstitusi secara langsung, bisa kita galang hak menyatakan pendapat bahwa presiden melanggar konstitusi, maka dengan hak menyatakan pendapat seorang presiden bisa dijatuhkan di mahkamah konstitusi. Itu baru di parlemen ruangan, tapi kalau di parlemen jalanan Habib Riziq yang lebih banyak tahu.

Tetapi parlemen jalan dan parlemen ruangan adalah dua ruangan yang tersambung. Oleh sebab itu adalah benar bahwa kalau kita tidak diberikan kesempatan untuk ketemu dengan presiden, pintu gedung parlemen DPR RI dibuka untuk semua rakyat. Tidak ada yang salah dalam hal ini, yang salah adalah penakut yang tidak berani bertemu kita. Mudah-mudahan hari ini adalah keberkahan bagi bangsa Indonesia, sebagai hari-hari bagi umat Islam, jayalah bangsa kita, bisa membantu umat-umat kita di tempat lain.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Ayo Berbagi!