Mengenang KH. Ahmad Syahid, Ulama Limbangan yang Mendunia

Ayo Berbagi!

IMG-20170807-WA0148

SwaraSenayan.com. Hari ini warga masyarakat di sekitar Limbangan Garut berduka, pasalnya sosok kharismatik dari Tatar Sunda KH. Ahmad Syahid atau yang akrab dipanggil “Ayah Syahid dari para santri dan jama’ahnya kini telah berpulang ke rahmatullah (7/8/2017).

Menurut Aceng Ahmad Nasir, S.Ag, M.Si salah satu keponakannya ini menuturkan kepada SWARA SENAYAN bahwa nama Syahid sendiri adalah kependekan dari Syarif Hidayatulloh. “Syahid muda adalah Sang Juara Qori pertama di tingkat internasional mengalahkan para peserta Qiroatul Qur’an dari seluruh dunia sekitar tahun 1970-an,” tutur Aceng.

Dimata Aceng, sosok almarhum adalah seorang santri Ponpes Qiro’atusab’ah Kudang Limbangan Garut ini telah mengangkat citra umat Islam Indonesia dimata dunia. Aceng menuturkan bahwa kehadiran KH. Syahid sebagai Qori internasional sudah eksis terlebih dahulu jauh sebelum tampilnya junior-juniornya di ponpes yang sama yaitu KH. Mu’ammar ZA, KH. Nanang Qosim maupun qiroat-qiroat terbaik lainnya.

Tokoh Nahdatul Ulama yang merupakan sahabat Gusdur ini ayahnya asli Limbangan dan ibundanya dari Cicalengka, kemudian memperistri Hj. Euis putri dari pimpinan Ponpes Kudang Limbangan yang memulai membuka ponpes Al-Falah yang melanjutkan rintisan ayahnya KH. Sholeh.

“Sejak tahun 1980-an Al-Falah berkembang pesat hingga perlu mendirikan Al-Falah II di daerah Nagreg dengan luas lokasi pesantren lebih dari 20 Ha. Alumni Ponpes Al-Falah menyebar tidak hanya dari Indonesia bahkan Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura dan beberapa negara lainnya dari Timur Tengah,” jelas Aceng yang juga sebagai Ketua Umum Perkumpulan Santri Pasundan.

Aceng juga mengutip pernyataan  Ketua Dewan Syuriah PC NU Garut KH. R. Amin Muhyidin yang menyebutkan bahwa sosok Kang Syahid (sapaan akrabnya kepada almarhum) adalah sosok yang sederhana, bahkan ketika Apa Wates (ayahanda KH. Amin) wafat, beliau yang menggotong keranda jenazahnya.

“Kang Syahid rela sampai masuk ke pematang sawah sampai sepatunya di buang dan menggotong jenazah ayah saya tanpa alas kaki, kami semua kehilangan sosok yang sangat ramah itu,” papar Aceng ketika mengutip pernyataan duka dari KH. Amin Muhyidin.

Aceng yang aktif sebagai Ketua Format Garut (Forum Alim Ulama dan Tokoh Masyarakat – Garut) merasakan bahwa hari ini telah kehilangan sosok ulama besar dari Tatar Sunda yang telah mengharumkan nama bangsa.

“Semoga Allah SWT menghadirkan para pengganti dengan ulama-ulama khos yang senantiasa memberikan kesejukan serta memberi cahaya terang di era yang penuh dengan tantangan zaman ini,” kata Aceng.

Inilah pesan terakhir KH. Ahmad Syahid, “Kade dimana wae urang ayana, propesi naon wae, ulah lesot kana kasantrian, tong lesot maca Qur’an sinareng kedah di imetan isi kalimahna.” Atas nama keluarga besar almarhum, Aceng mengucapkan terimakasih atas doa dan perhatian bagi ribuan pelayat semoga keberkahan untuk kita semua. *SS

Ayo Berbagi!