Relawan Gerakan Kebajikan Pancasila Didorong Hadirkan Nilai Pancasila Lewat Aksi Nyata

oleh -77 Dilihat
oleh
banner 468x60

Ende – Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) bersama Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI, Dr. Andreas Hugo Pareira, menggelar kegiatan Penguatan Relawan Gerakan Kebajikan Pancasila kepada masyarakat di Hotel Flores Mandiri Ende, Kecamatan Ende Tengah, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur, Rabu (16/9/2026). Kegiatan tersebut mendorong penguatan nilai-nilai Pancasila melalui aksi nyata di tengah masyarakat.

Dalam pemaparannya, Andreas Hugo Pareira mengangkat hubungan erat antara sejarah perjuangan Bung Karno, masa pengasingannya di Ende, serta perkembangan pemikiran yang kemudian berkontribusi terhadap gagasan Pancasila. Ende disebut menjadi ruang refleksi bagi Bung Karno untuk berpikir, membaca, berdialog, dan berinteraksi dengan masyarakat dari berbagai latar belakang.

banner 336x280

Bung Karno tiba di Ende pada 14 Januari 1934 bersama keluarganya. Meskipun berstatus tahanan politik dan berada di bawah pengawasan pemerintah kolonial, aktivitas intelektual dan sosialnya tetap berlangsung. Ia banyak membaca, memperdalam Islam, berdiskusi dengan pastor SVD, serta berinteraksi dengan masyarakat yang memiliki latar belakang suku, etnis, dan agama yang beragam.

Andreas juga menyoroti peran kelompok sandiwara atau Tonil yang dibentuk Bung Karno selama berada di Ende. Melalui kelompok tersebut, Bung Karno menulis 13 naskah sandiwara dan melibatkan masyarakat sebagai aktor. Aktivitas itu menunjukkan kemampuannya dalam mengajak, memimpin, mengorganisasi, dan menggerakkan masyarakat melalui semangat gotong royong.

Pengalaman Bung Karno selama berada di Ende, mulai dari perenungan, interaksi dengan masyarakat yang beragam hingga praktik gotong royong, disebut menjadi bagian dari rekam jejak yang menginspirasi pemikiran kebangsaan yang kemudian disampaikan dalam pidato 1 Juni 1945. Ende pun tidak hanya dipandang sebagai tempat pengasingan, tetapi sebagai ruang berkembangnya gagasan kebangsaan.

Sementara itu, Dr. Toto Purbiyanto, S.Kom., M.Ti., Direktur Pelaksanaan Pendidikan dan Pelatihan BPIP RI, menekankan bahwa Pancasila harus menjadi pedoman dalam kehidupan sehari-hari, bukan sekadar sesuatu yang dihafalkan atau diucapkan. Nilai-nilai Pancasila perlu diwujudkan melalui cara berpikir, bersikap, dan bertindak, baik di lingkungan keluarga, masyarakat, maupun ruang digital.

Menurut Toto, implementasi Pancasila dapat tercermin melalui semangat berbeda dengan tetap menghargai keberagaman, bersatu dalam menjaga persatuan, serta bergotong royong dalam membangun kepedulian dan kerja sama. Dengan demikian, nilai Pancasila diharapkan dapat benar-benar hadir dalam kehidupan masyarakat dan berkontribusi terhadap terciptanya Indonesia yang kuat dan harmonis.

Pada kesempatan yang sama, Heribertus Gani, Ketua Persatuan Alumni GMNI Kabupaten Ende, memaparkan akar historis pemikiran Bung Karno, termasuk konsep Marhaenisme. Ia menjelaskan bahwa proses penggalian gagasan tersebut telah dimulai sejak Bung Karno masih menjadi mahasiswa di Bandung dan kemudian berkembang menjadi pemikiran mengenai persatuan nasional, sosio-nasionalisme, serta sosio-demokrasi.

Heribertus juga menjelaskan tiga fungsi fundamental Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, yakni sebagai dasar negara, pandangan hidup atau ideologi negara, serta sumber hukum. Selain itu, Pancasila berfungsi mempertemukan berbagai perbedaan agama, suku, ras, dan budaya dalam satu kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Di tengah perkembangan revolusi digital, kecerdasan buatan, globalisasi, perubahan iklim, dan ketidakpastian ekonomi, Heribertus menilai Pancasila perlu ditempatkan sebagai living ideology atau ideologi yang hidup. Nilai-nilainya perlu menjadi jiwa, kepribadian, dan panduan masyarakat dalam menghadapi perubahan zaman, khususnya bagi generasi muda.

Sementara itu, Drs. H. Ahmad Abdul Gaffar, Ketua PCNU Kabupaten Ende, menekankan bahwa Gerakan Kebajikan Pancasila diarahkan untuk menghidupkan nilai-nilai Pancasila melalui aksi nyata, bukan sekadar slogan. Relawan diposisikan sebagai “tangan Pancasila” di lapangan yang menerjemahkan nilai-nilai tersebut menjadi kegiatan yang manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

Ia memaparkan sejumlah bentuk aksi yang dapat dilakukan relawan berdasarkan lima nilai Pancasila. Dalam bidang ketuhanan, relawan dapat mendorong toleransi dan gotong royong lintas iman. Dalam bidang kemanusiaan, relawan dapat terlibat dalam bantuan bencana, pemeriksaan kesehatan, dan santunan. Sementara nilai persatuan dapat diwujudkan melalui dialog antarkampung, festival budaya, serta kampanye anti-hoaks dan ujaran kebencian.

Dalam bidang kerakyatan dan keadilan, relawan didorong membuka ruang aspirasi masyarakat, mendukung UMKM, memberikan pelatihan, serta membantu kelompok masyarakat yang membutuhkan melalui program beasiswa, bedah rumah, bank sampah, maupun bantuan hukum.

Ahmad Abdul Gaffar juga menguraikan empat langkah penguatan relawan, yakni penguatan kapasitas diri, penguatan jaringan, penguatan program, dan penguatan komunikasi. Relawan perlu menjadi teladan, memahami empat pilar kebangsaan, membangun jejaring dengan berbagai kelompok masyarakat, serta menjalankan program berbasis Pangan, Pendidikan, dan Peduli.

Dalam menjalankan kegiatan, relawan ditekankan untuk hadir dengan semangat gotong royong dan pelayanan, bukan menjadikan kegiatan sebagai aktivitas politik. Kepercayaan masyarakat juga perlu dibangun melalui konsistensi, transparansi, pemberian solusi jangka panjang, serta penghargaan terhadap kearifan lokal.

Kegiatan Penguatan Relawan Gerakan Kebajikan Pancasila ini menegaskan pentingnya mengubah Pancasila dari sekadar konsep menjadi aksi sosial yang konkret. Melalui pelayanan kemanusiaan, penguatan persatuan, pendidikan, pemberdayaan masyarakat, kepedulian lingkungan, dan kerja sama lintas kelompok, relawan diharapkan mampu menghadirkan nilai-nilai Pancasila secara nyata di tengah masyarakat.

banner 336x280

No More Posts Available.

No more pages to load.