Penguatan Relawan Gerakan Kebajikan Pancasila Digelar di Sikka, Tekankan Implementasi Nilai Pancasila dalam Kehidupan

oleh -33 Dilihat
oleh
banner 468x60

SIKKA, NTT — Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) bersama Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI, Dr. Andreas Hugo Pareira, menggelar kegiatan Penguatan Relawan Gerakan Kebajikan Pancasila kepada Masyarakat di Aula Gereja Katolik Paroki St. Mikhael, Nita, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, Selasa (15/9/2026).

Kegiatan tersebut menghadirkan tiga narasumber, yakni Direktur Pelaksanaan Pendidikan dan Pelatihan BPIP RI Dr. Toto Purbiyanto, S.Kom., M.Ti., Imam Keuskupan Maumere sekaligus akademisi Romo Dr. Wilfrid Valiance, Pr., serta Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI Dr. Andreas Hugo Pareira.

banner 336x280

Dalam pemaparannya, Dr. Toto Purbiyanto menekankan bahwa Pancasila tidak boleh berhenti sebagai hafalan atau sekadar diucapkan. Nilai-nilai Pancasila harus dihidupkan dan diwujudkan melalui cara berpikir, bersikap, dan bertindak dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan keluarga, masyarakat maupun ruang digital.

Menurutnya, implementasi Pancasila dapat diwujudkan melalui sikap menghargai keberagaman, menjaga persatuan, serta membangun kepedulian dan kerja sama melalui semangat gotong royong. Dengan demikian, Pancasila dapat menjadi kekuatan untuk mewujudkan Indonesia yang kuat dan harmonis.

Sementara itu, Romo Dr. Wilfrid Valiance, Pr., mengulas hubungan antara Pancasila dan akar budaya Nusantara, khususnya keberagaman masyarakat Sikka. Ia menjelaskan bahwa Indonesia merupakan negara bangsa yang memiliki keragaman pulau, suku, dan bahasa, namun keberagaman tersebut dapat dipersatukan melalui rasa kebangsaan, komunikasi, dan kehidupan bersama.

Dalam konteks Sikka, nilai-nilai Pancasila tercermin dalam berbagai tradisi lokal. Nilai Ketuhanan tercermin dalam spiritualitas dan ritus masyarakat; nilai kemanusiaan melalui etika sosial dan penghormatan terhadap tamu; nilai persatuan melalui persaudaraan dan kebersamaan; nilai kerakyatan melalui musyawarah adat; serta nilai keadilan sosial melalui gotong royong dan sikap saling membantu.

Romo Wilfrid juga mengingatkan adanya sejumlah tantangan dalam pengamalan Pancasila, antara lain fanatisme agama, politik identitas, serta derasnya arus informasi di media sosial. Di era post-truth, emosi dan keyakinan personal dapat lebih memengaruhi pembentukan opini dibandingkan fakta, sehingga masyarakat semakin rentan terhadap hoaks dan informasi dari akun palsu.

Narasumber berikutnya, Dr. Andreas Hugo Pareira, mengangkat pengalaman Bung Karno selama menjalani pengasingan di Ende, Flores, sebagai bagian penting dalam perjalanan pemikiran kebangsaan dan Pancasila.

Andreas menjelaskan bahwa Bung Karno tiba di Ende pada 14 Januari 1934 bersama keluarganya. Meskipun berstatus sebagai tahanan politik dan berada dalam pengawasan pemerintah kolonial, Bung Karno tetap aktif membaca, berdiskusi, memperdalam pemikiran keagamaan, serta berinteraksi dengan masyarakat dari berbagai latar belakang suku, etnis, dan agama.

Di Ende, Bung Karno juga menggunakan seni pertunjukan atau Tonil sebagai media perjuangan. Ia menulis 13 naskah sandiwara dan melibatkan masyarakat sebagai aktor. Kegiatan tersebut menjadi gambaran bagaimana Bung Karno membangun komunikasi dengan masyarakat sekaligus menggerakkan mereka melalui semangat gotong royong.

Pengalaman Bung Karno di Ende, mulai dari proses berpikir dan berkontemplasi, membaca, berinteraksi dengan masyarakat yang beragam, hingga mengorganisasi masyarakat, disebut menjadi bagian dari rekam jejak yang menginspirasi pemikiran yang kemudian tercermin dalam pidato 1 Juni 1945 sebagai hari lahir Pancasila.

Melalui kegiatan tersebut, para peserta diajak memahami bahwa Pancasila memiliki hubungan erat dengan kehidupan masyarakat dan budaya lokal. Keberagaman, persaudaraan, toleransi, musyawarah, dan gotong royong yang telah hidup dalam tradisi masyarakat menjadi modal penting untuk menjaga persatuan bangsa.

Kegiatan Penguatan Relawan Gerakan Kebajikan Pancasila di Sikka diharapkan dapat semakin memperkuat kesadaran masyarakat untuk menjadikan Pancasila bukan hanya sebagai dasar negara, tetapi juga sebagai nilai yang benar-benar dihidupkan dan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

banner 336x280

No More Posts Available.

No more pages to load.