Sanggar Suluk Nusantara Ngaji Manunggaling Kawulo Gusti

Ayo Berbagi!

SwaraSenayan.com – Di bulan Ramadhan tahun ini, Sanggar Suluk Nusantara menyelenggarakan pengajian ala suluk-suluk Sunan Kalijaga. Pengajian dengan pendekatan budaya ini diiringi irama gamelan dan lantunan tembang-tembang macapat dari materi yang dibahas serta shalawat Sunan Kalijaga dari Suluk Singgah-singgah.

Pada ngaji sesi IV menghadirkan topik “Jagat Gede – Jagat Kecil dan Manunggaling Kawula Gusti” yang dibawakan oleh Ki Mustaqim Abdul Manan dengan moderatot Ki B.Wiwoho (penulis buku-buku antara lain : Islam Mencintai Nusantara, Jalan Dakwah Sunan Kalijaga dan  Bertasawuf di Zaman Edan) didamping Ki Abdul Aziz Basyaruddin, Ki Murjoko, Ki Noerrochman pada hari Kamis 31 Mei 2018 (15 Ramadhan 1439 H) bertempat di Perumahan Depok Mulya I, Beji kota Depok.

Dalam tasawuf, manusia digambarkan terdiri dari dua unsur, yaitu roh dan tubuh. Dari kinerja antara roh dan tubuh tersebut menghasilkan apa yang kita sebut dengan jiwa.

Secara biologis asal mula kejadian manusia diciptakan dari tanah merah yang berfungsi sebagai wadah (tempat) persemayaman roh selama di dunia. Sehingga jasad manusia tidak kekal dan akan membusuk kembali ke tanah. Selebihnya adalah roh Allah, yang setelah kemusnahan raganya akan menyatu kembali dengan keabadian (kekal).

“Kehidupan yang kekal abadi setelah kematian ragawi inilah sebagai konsep tujuan hidup,” papar Ki Mustaqim.

Manusia diciptakan Tuhan semata-mata untuk beribadah kepada Sang Pencipta. Roh manusia ketika ditiupkan Tuhan masih sangat suci bagaikan cahaya kebiruan yang jernih, bening, suci tak bernoda.

Namun, ketika mengembara di alam fana dunia ini nafsunya yang menyenangi pesona dunia menjadi racun yang menyebar dalam kehidupannya. Bisa atau racun itu dapat bermanfaat bagi kehidupan atau sebaliknya, kehidupan yang semula tenang juga bisa berubah menjadi racun.

Jiwa manusia ini, apabila suci dari segala kekeruhan yang datang dari alam lahiriah, maka naiklah kedudukan dan status jiwa tersebut ke alam malaikat jabarut, yaitu alam yang dihuni para malaikat dan roh suci.

Dalam kondisi tersebut tidak ada dinding penghalang antara sang jiwa dan Sang Pencipta. Di mata orang yang  memiliki jiwa seperti itu, alam raya ini tampak begitu kecil bagaikan sebutir biji sawi. Alam atau jagat raya yang tertangkap oleh panca inderanya menjadi jagat kecil, sedangkan dirinya menjadi jagat besar.

Adanya pencapaian spiritualitas yang tinggi dalam penyatuan antara makhluk dengan Dzat Pencipta (Sang Khaliq) inilah yang lebih populer dengan sebutan manunggaling kawula Gusti, manusia menyatu dengan Tuhannya, dalam arti jiwa manusia mampu mengendalikan segala nafsu dan keinginannya, sehingga menyatu dengan kehendak Allah.

“Ketika manusia telah mampu menjalankan tugasnya secara paripurna dengan baik sebagai khalifatul fil ‘ardh atau wakil dan utusan Allah di muka bumi, maka Allah akan mengganjarnya di alam keabadian, kekal di sisi Nya,” papar Ki Mustaqim.

Manunggalingnya merupakan persatuan Dzat sifat, roh bersatu dengan Dzat sifat Tuhan dalam gelombang energi dan frekuensi yang sama. Inilah prinsip kemanunggalan tentang manunggaling kawula Gusti yang diumpamakan “wiji wonten salebeting wit.”

Dalam Suluk Guntur, Sunan Bonang membuat tamsil, garam jatuh ke laut dan lenyap, tetapi tidak dapat dikatakan menjadi laut. Demikian pula apabila manusia mencapai keadaan fana, tidak lantas tercerap kedalam Wujud Mutlak. Yang lenyap adalah kesadaran akan keberadaan atau kewujudan jasmaninya.

Pencapaian tertinggi seorang salik adalah fana ruh idafi yaitu keadaan dapat melihat peralihan atau pertukaran segala bentuk lahir dan gejala lahir. Disini ia mencapai makrifat dengan kesadaran intuitif yang menyempurnakan penglihatannya tentang Allah sebagai Yang Kekal dan Yang Tunggal.

Allah adalah satu-satunya yang wajib disembah. Dia tidak tampak dan tidak berbentuk. Tidak terlihat oleh mata. Sedangkan alam semesta dan segala isinya merupakan cerminan dari wujud Allah yang tampak. Seseorang bisa meyakini adanya Allah karena ia melihat pancaran wujud Nya melalui jagad raya ini.

Allah tidak berawal dan berakhir, memiliki sifat langgeng, tak mengalami perubahan sedikit pun. Allah berada di mana-nana, bukan ini dan bukan itu. Dia berbeda dengan segala wujud barang baru yang ada di dunia.

Dalam aliran kebatinan dan kejawen, keadaan kemustahilan itu adalah “tan kena kinayangapa”, tidak tergambarkan atau tidak dapat disepertikan. Jadi hakikat Tuhan adalah kekosongan yang tak terbayangkan, tetapi memiliki energi yang luar biasa,  sehingga mampu mengatur kehidupan serta keserasian alam raya.

Energi yang luar biasa itu memancar dan masuk ke dalam makhluk-makhluk hidup. Pada manusia, energi itu adalah cahaya kehidupan atau atman atau roh atau jiwa.  Hubungan sumber asal energi dengan roh dikiaskan sebagai Brahman dengan atman atau matahari dengan cahaya-cahayanya yang memancar menerangi serta menghidupi alam raya dan makhluk-makhluknya. *SS

Ayo Berbagi!