Influencer dan Komunitas Digital Dinilai Kunci Diversifikasi Pangan Lokal

oleh -28 Dilihat
oleh
banner 468x60

Jakarta – Direktorat Jenderal Komunikasi Publik dan Media (KPM) Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menggelar webinar Forum Diskusi Publik bertajuk “Peran Influencer dan Komunitas Digital dalam Kampanye Diversifikasi Pangan Lokal” pada Senin (27/4/2026). Kegiatan ini berlangsung di Intel Studio, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, dan menghadirkan sejumlah narasumber dari kalangan pemerintah, akademisi, hingga pegiat literasi digital.

Anggota Komisi I DPR RI, Prof. Dr. (H.C.) H. A. Halim Iskandar, M.Pd, dalam pembukaannya menegaskan bahwa isu pangan tidak hanya menjadi tanggung jawab sektor pertanian, tetapi berkaitan erat dengan ketahanan nasional. Ia menyebut, ketergantungan masyarakat terhadap beras sebagai satu-satunya pangan pokok menjadi kerentanan serius di tengah ancaman krisis iklim global.

banner 336x280

“Diversifikasi pangan bukan berarti memusuhi beras, melainkan memperluas pilihan konsumsi masyarakat agar tidak bergantung pada satu sumber,” ujarnya.

Ia juga menyoroti pentingnya peran ruang digital sebagai sarana perubahan perilaku masyarakat. Dengan lebih dari 229 juta pengguna internet di Indonesia, kolaborasi pemerintah dengan influencer dan komunitas digital dinilai menjadi strategi efektif dalam mengedukasi generasi muda.

Sementara itu, praktisi kehumasan dan pakar budaya digital, Dr. Rulli Nasrullah, M.Si, mengungkapkan bahwa Indonesia masih menghadapi ketergantungan tinggi terhadap beras dan gandum impor. Ia menekankan perlunya mengangkat potensi “Superfood Nusantara” seperti singkong, sagu, dan ubi yang memiliki nilai gizi tinggi serta ramah lingkungan.

Menurutnya, kampanye digital dapat mendorong perubahan pola konsumsi melalui pendekatan kreatif dan berbasis komunitas. “Influencer mampu menjadikan pangan lokal sebagai bagian dari gaya hidup modern yang menarik bagi generasi muda,” katanya.

Senada dengan itu, pegiat literasi digital Narsun Annahar menilai bahwa tantangan utama diversifikasi pangan terletak pada stigma sosial dan pendekatan kampanye yang kurang menarik. Ia menekankan bahwa konten kreator memiliki peran strategis sebagai pembentuk tren dan jembatan antara pelaku UMKM pangan lokal dengan pasar.

“Yang dijual bukan sekadar bahan pangan, tetapi pengalaman dan gaya hidup. Ini yang membuat generasi muda lebih tertarik,” jelasnya.

Dalam sesi diskusi, peserta juga menyoroti implementasi diversifikasi pangan, termasuk harga komoditas seperti sorgum yang masih relatif tinggi. Narasumber menjelaskan bahwa hal tersebut dipengaruhi oleh skala produksi yang belum besar, sehingga diperlukan dorongan permintaan melalui kampanye yang masif.

Selain itu, integrasi pangan lokal dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta pemanfaatan jaringan posyandu dinilai sebagai langkah strategis untuk mengenalkan diversifikasi pangan sejak dini.

Webinar ini menegaskan bahwa keberhasilan diversifikasi pangan tidak hanya bergantung pada kebijakan pemerintah, tetapi juga kolaborasi lintas sektor, termasuk peran aktif masyarakat digital. Upaya ini diharapkan mampu memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani lokal.

banner 336x280

No More Posts Available.

No more pages to load.