TASIKMALAYA — Anggota Komisi I DPR RI, H. Oleh Soleh, S.H., mengajak para kiai, ustaz, ustazah, dan guru madrasah diniyah untuk lebih aktif memanfaatkan media sosial sebagai sarana dakwah dan pendidikan yang positif. Menurutnya, perkembangan ruang digital membuka peluang bagi para pendidik agama untuk menjangkau masyarakat lebih luas sekaligus menghadapi tantangan penyebaran informasi yang tidak selalu benar.
Pesan tersebut disampaikan Oleh Soleh saat bersilaturahmi dengan para kiai, ustaz, serta pengurus Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah (FKDT) Kota Tasikmalaya dalam pembukaan seminar Merajut Nusantara BAKTI KOMDIGI bertema “Cakap Bermedia Digital”, pada 12 Oktober 2026 di Tasikmalaya.
Oleh Soleh menyoroti perubahan pola masyarakat dalam memperoleh informasi dan mengikuti dakwah. Saat ini, pembinaan umat tidak cukup hanya dilakukan melalui ruang fisik, seperti majelis taklim dan madrasah, tetapi juga perlu menjangkau media sosial yang telah menjadi bagian dari keseharian masyarakat.
Ia mengingatkan bahwa popularitas sebuah konten di media sosial tidak selalu mencerminkan kebenaran informasi maupun kredibilitas orang yang menyampaikannya. Konten yang viral kerap lebih mudah menarik kepercayaan masyarakat, sementara latar belakang dan keabsahan keilmuan pembuat konten belum tentu diperiksa secara memadai.
Karena itu, para pendidik dan tokoh agama didorong untuk tidak ragu membagikan konten edukatif melalui media sosial. Aktivitas pembelajaran sehari-hari, seperti anak-anak menghafal doa maupun kegiatan diskusi fikih, dapat menjadi bahan dakwah yang bermanfaat bagi masyarakat luas.
Oleh Soleh juga menekankan pentingnya kemampuan memahami algoritma media sosial. Dengan memproduksi dan menyebarkan konten yang mendidik, para guru diniyah diharapkan ikut mengisi ruang digital dengan pesan positif, sehingga tidak didominasi oleh caci maki, konten negatif, maupun misinformasi.
Tantangan lain yang menjadi perhatian adalah perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Teknologi seperti ChatGPT dapat membantu masyarakat mencari informasi dengan lebih mudah, tetapi informasi yang dihasilkan tetap perlu diperiksa kebenarannya. Dalam konteks pendidikan agama, bimbingan guru dan pendakwah yang memiliki pemahaman keilmuan yang tepat tetap diperlukan untuk mendampingi anak-anak dalam membangun akidah dan akhlak.
Selain literasi digital, Oleh Soleh turut menyoroti pentingnya pemerataan akses dan perlakuan dalam dunia pendidikan. Ia mendorong agar tidak ada diskriminasi antara sekolah negeri dan swasta maupun antara lembaga pendidikan di bawah Kementerian Pendidikan dan Kementerian Agama.
Ia juga mendukung upaya mewujudkan pendidikan gratis mulai dari jenjang pendidikan anak usia dini (PAUD) hingga perguruan tinggi agar kesempatan memperoleh pendidikan dapat dirasakan secara adil oleh seluruh lapisan masyarakat.
Terkait pembahasan Rancangan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (RUU Sisdiknas), Oleh Soleh menyatakan pentingnya menampung aspirasi FKDT dan madrasah diniyah untuk dikawal dalam Panitia Kerja (Panja) RUU Sisdiknas. Sementara itu, pondok pesantren tetap mempertahankan kekhususannya sebagaimana disebutkan dalam materi kegiatan.
Melalui seminar Merajut Nusantara bertema “Cakap Bermedia Digital”, penguatan literasi digital diharapkan berjalan beriringan dengan pengembangan pendidikan keagamaan. Para guru diniyah dan tokoh agama memiliki peran penting dalam menghadirkan informasi yang bermanfaat, membimbing masyarakat agar lebih kritis dalam menerima informasi, serta menjaga nilai-nilai akidah dan akhlak di tengah perkembangan teknologi.













