Tantangan Besar Mewujudkan Swasembada Bawang Putih

oleh -5 Dilihat
oleh
banner 468x60

Oleh: Anthony Budiawan, Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS)

SwaraSenayan.com. Indonesia adalah negara importir bawang putih terbesar dunia. “Menguasai” 17,6 persen pasar impor dunia pada tahun 2016. Devisa yang dikeluarkan sekitar 674 juta dolar AS. Setara sekitar Rp 9,5 triliun, bila menggunakan kurs saat ini. Banyak pihak merasa tidak masalah dengan kenyataan pahit ini. Karena Indonesia dianggap tidak mampu bersaing dengan produsen bawang putih asing. Khususnya China. Ada pihak yang menyuarakan nada sumbang, bahwa bawang putih tidak cocok ditanam di bumi pertiwi ini. Padahal sampai tahun 1994, Indonesia dapat memenuhi seluruh kebutuhan nasionalnya dari dalam negeri. Dari produksi dan penanaman di Indonesia. Dengan kata lain, Indonesia ketika itu sudah mampu swasembada bawang putih.

banner 336x280

Bahwa bawang putih Indonesia saat ini kalah bersaing dengan luar negeri adalah suatu fakta yang harus dicarikan solusinya. Tidak harus menyerah begitu saja. Pada hakekatnya, daya saing, dalam banyak bidang, bisa dibangun. Misalnya Toyota, yang mampu mematahkan hegemoni industri otomotif Barat pada tahun 1980-an.

Masalah utama rendahnya daya saing bawang putih Indonesia karena produktivitas penanaman (budidaya) bawang putih sangat rendah. Dan produktivitas ini terus menurun. Hal ini mengakibatkan biaya produksi bawang putih Indonesia menjadi sangat mahal sekali. Dan terus meningkat seiring menurunnya produktivitas. Biaya produksi bisa mencapai Rp 20.000 per kilogram, bahkan lebih. Di China, biaya produksi bawang putih hanya sekitar Rp 7.500 per kilogram saja.

Permasalahan produktivitas rendah bukan kesalahan petani. Dan juga bukan kesalahan lahan yang tidak cocok. Masih banyak lahan di Indonesia yang bisa, dan sangat layak, ditanami bawang putih. Dan ini sudah terbukti dengan swasembada tahun 1994. Tetapi, permasalahan utama produktivitas rendah kemungkinan besar disebabkan kualitas benih bawang putih Indonesia kurang baik, dan kurang layak.

Bawang putih adalah tanaman yang dibudidayakan secara vegetatif. Yaitu, benih yang ditanam berasal dari siung bawang putih tersebut. Karena kemampuan bawang putih untuk melakukan reproduksi secara alami (sexually reproduction) sangat buruk. Sehingga penanaman dari benih biji-bijian, atau secara generatif, sulit dilakukan.

Penanaman bawang putih secara vegetatif mempunyai kelemahan mendasar. Yaitu, rentan terjangkit virus. Dan virus tersebut akan ikut terbawa ke tanaman berikutnya. Dengan kata lain, terbawa turun menurun. Virus-virus tersebut, antara lain LYSV (Leek Yellow Stripe Virus), OYDV (Onion Yellow Dwarf Virus), atau secara keseluruhan disebut Garlic Viral Complex (GVC), bisa mengakibatkan pertumbuhan umbi bawang putih menyusut hingga 50 persen sampai 70 persen. Artinya umbi bawang putih yang terkena vitus akan mengecil. Dan produktivitas turun drastis.

Berat umbi bawang putih Indonesia ada yang hanya 15 gram saja, bahkan kurang. Dan paling besar mungkin sekitar 25 gram. Sedangkan bawang putih China bisa mencapai 45 gram hingga 50 gram. Apakah perbedaan berat yang menyolok ini karena perbedaan varitas? Atau karena bawang putih Indonesia memang sudah terjangkit virus secara turun temurun yang membuat umbi mengecil? Mengingat penanaman bawang putih Indonesia dilakukan secara vegetatif terus menerus, dan selama ini tidak ada pemurnian benih, besar kemungkinan bawang putih Indonesia sudah terjangkit virus yang membuat pertumbuhannya umbinya tidak maksimal, dan kecil.

Untuk itu, untuk meningkakan daya saing bawang putih Indonesia di pasar global, Indonesia harus melakukan pemurnian benih bawang putih agar terbebas dari virus. Sehingga membuat umbi menjadi lebih besar, dan lebih berat. Sehingga membuat produktivitas tanam meningkat tajam, dan biaya produksi bawang putih turun drastis.

Tanpa pemurnian benih, niscaya target swasembada bawang putih 2021 sulit tercapai, bahkan mungkin selamanya tidak akan pernah tercapai. Karena produktivitas rendah, dan biaya produksi tinggi. Artinya, pemurnian benih yang terbebas virus merupakan prasyarat utama untuk bisa swasembada. Karena, dengan benih yang terbebas virus, produktivitas bisa meningkat dua sampai tiga kali lipat. Petani akan lebih sejahtera. Dan, ini merupakan tantangan utama bagi kita semua untuk bisa mewujudkan swasembada bawang putih scepat-cepatnya. *SS

banner 336x280

No More Posts Available.

No more pages to load.