Diundang ke Istana Bogor, Ini Harapan Datu Pujut Lombok Tengah NTB

oleh -7 Dilihat
oleh
banner 468x60

SwaraSenayan.com. Presiden Joko Widodo memulai agenda menerima tamu di tahun 2018 ini dengan mengumpulkan para raja, sultan, datu dari seluruh penjuru nusantara di Istana Bogor, Jawa Barat (4/1/2018).

Para raja, panglima kesultanan dan kedatuan memberikan masukan kepada Presiden Jokowi khususnya dalam menjaga dan melestarikan kearifan budaya nusantara ditengah pengaruh globalisasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Berbagai harapan disampaikan para raja dan sultan kepada presiden. Mereka ingin agar negara melihat peran para raja yang ada di Indonesia.

banner 336x280

“Kami berharap Presiden Jokowi menjaga dan melestarikan budaya nusantara, karena republik ini terbentuk berasal dari kerajaan, kesultanan dan kedatuan di seluruh penjuru nusantara,” ujar H. Lalu Gede Syamsul Mujahidin dari Kedatuan Pujut dan Kerajaan Selaparang Lombok Nusa Tenggara Barat (NTB) di Istana Bogor, Kamis (4/1/2018).

Lalu Gede menjelaskan bahwa Kedatuan Pujut yang berlokasi di Lombok Tengah ini lokasinya dulu mencakup kawasan yang saat ini dikembangkan menjadi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata Mandalika, di Pantai Kuta, Kabupaten Lombok Tengah NTB.

Karena itu, tanah yang dipakai KEK Mandalika saat ini adalah tanah adat Kedatuan Pujut yang sudah diserahkan kepada Negara Republik Indonesia untuk dikelola sebaik-baiknya bagi kemakmuran rakyat. Untuk itu, Lalu Gede meminta agar pembangunan tersebut bisa bermanfaat dan bermaslahat bagi kesejahteraan warga, lebih khusus bagi warga masyarakat Lombok Tengah.

Lalu Gede (baju hitam samping kanan Presiden Jokowi) bersama Raja-raja Nusantara

Dalam kesempatan itu, Lalu Gede mengatakan bahwa perhatian Presiden Joko Widodo kepada pembangunan infrastruktur yang sedang digalakkan saat ini agar tidak meninggalkan budaya dan kearifan lokal serta memperhatikan pembangunan warga bangsanya, karena pembangunan infrastruktur diyakini dapat memberikan manfaat langsung bagi kemakmuran rakyat juga dapat menimbulkan dampak mudharat bagi kesengseraan kehidupan rakyat.

“Kami mengharapkan kedatuan ini diakomodir dalam memberikan pertimbangan-pertimbangan strategis dalam pengambilan keputusan negara guna memberikan kontribusi dan interaksi langsung dengan kebijakan-kebijakan presiden,” ungkap Lalu Gede, keturuan ke-17 dari Kedatuan Pujut, Lombok Tengah NTB.

Menurut Lalu, keterlibatan kedatuan secara nyata harus diberikan ruang dalam sistem demokrasi saat ini, sehingga kedatuan dapat ikut memberikan kontribusi dalam pembangunan secara langsung dan nyata. Untuk itu, Lalu Gede sangat mendukung adanya Forum Silaturahmi Keraton Nusantara (FSKN) sebagai forum silaturahim para Raja, Sultan, Penglingsir dan Pemangku Adat untuk bersatu menjaga dan mengembangkan nilai-nilai kearifan lokal warisan adilihung leluhur.

“Kami haturkan banyak terimakasih kepada Yang Mulia PRA. Arief Natadiningrat selaku Ketua Umum FSKN dan Yang Mulia Hj. RA. Yani S Kuswodidjoyo selaku Sekjen FSKN yang telah berikhtiar bersama-sama keraton nusantara untuk menyelamatkan, melestarikan, dan mengembangkan keraton sebagai sumber tradisi dan jatidiri bangsa,” kata Lalu Gede.

“Memang, dalam sistem demokrasi saat ini sudah meninggalkan sistem monarki. Karena itu, sistem kearifan lokal yang bersumber dari tatanan nilai budaya, hukum adat, politik bahkan tata perekonomian maupun pengelolaan sumberdaya harus menjadi spirit bagi kebijakan negara yang berorientasi kepada kemakmuran dan kesejahteraan rakyat,” papar Lalu Gede yang juga mewakili dari Kerajaan Selaparang dari darah ibunya.

Terkait pembangunan KEK Mandalika yang sudah diresmikian Presiden Jokowi pada 20 Oktober 2017 lalu, Lalu Gede menyambut baik dan memberikan apresiasi bahwa pemerintahan Jokowi mampu merealisasikan perencanaan yang sudah digagas 29 tahun silam menjadi sebuah kenyataan. Lalu secara khusus minta presiden agar konsep pembangunan tersebut dilaksanakan dengan memperkuat identitas budaya lokal.

“Kekuatan budaya lokal adalah daya tarik bagi wisatawan. Selain budaya, rumah adat suku Sasak saya harapkan bisa menjadi karakter bangunan arsitektur di KEK Mandalika,” tutur Lalu Gede yang juga menjadi Anggota Komisi V DPR RI Fraksi Hanura dari daerah pemilihan NTB.

Lalu Gede, meyakini KEK Mandalika jika dijalankan dengan baik dan benar sesuai konsepnya, akan memberikan manfaat besar kepada masyarakat NTB. Selain itu, KEK Mandalika ini sebagaimana diyakini presiden akan membuka 58.000 lapangan kerja. *mtq

banner 336x280

Responses (2)

  1. Kita di pujut masih ambinggu dengan raja.. maupun kedaton, mana yg asli dan yg bukan.. jujur kami di pujut ini bingunggg… kalu memang ada mari tunjukan kami silsilah yg real Seperti yg ada di jogja.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.