TBH: Harga Diri Bangsa Tetap Harus Ditegakkan, Kita Tidak Boleh Kalah Sama Gerombolan

Ayo Berbagi!
TB Hasanuddin, Wakil Ketua Komisi I DPR
TB Hasanuddin, Wakil Ketua Komisi I DPR

Brigadir Jenderal Restituto Padilla Jubir Militer Filipina dalam sebuah telewicara di radio menyebutkan demi kerahasiaan masih disembunyikan keberadaan 10 WNI yang disandera. Tapi, dipastikan kesepuluh WNI masih selamat. Demikian penggalan wawancara (13/4/2016).

SwaraSENAYAN.com. Nama Abu Sayyaf kembali mencuat setelah baru-baru ini, sejak akhir Maret 2016 lalu telah melakukan penyanderaan terhadap 10 orang Warga Negara Indonesia (WNI) yang merupakaan sekelompok pelaut.

10 orang disandera oleh kelompok Abu Sayyaf bersama kapal mereka Anand 12. Kapal yang diawaki oleh orang Indonesia ini bermuatan batubara dari Sungai Puting, Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan, menuju Batangas, Filipina Selatan. Kapal ini beserta kapten dan awak ditangkap dan disandera oleh kelompok Abu Sayyaf di perairan Filipina.

“Soal perompakan yang menyandera 10 WNI, saya belum bisa memastikan apakah ini dilakukan dengan sepengetahuan  atau tanpa sepengetahuan oleh Abu Sayyaf. Karena kelompok ini banyak sempalannya, banyak dibawah komando komandan-komandan kecil,” demikian pandangan Wakil Ketua Komisi I DPR, Mayjen (Purn) TB Hasanuddin kepada SwaraSENAYAN (13/4/2016).

Lanjut TB Hasanuddin, bisa jadi mereka para kaki tangan Abu Sayyaf ini bergerak melakukan penyanderaan terlebih dulu, ketika sudah dapat uang tebusan, baru setor ke Abu Sayyaf. “Kita nggak ngerti,” ujarnya.

TB Hasanuddin menceritakan pengalamannya ketika melakukan Kunjungan Kerja (Kunker) ke Filipina tahun 2012 silam. Dia mendatangi kantor gubernur Nur Misuari pimpinan Moro National Liberation Front (MNLF), adalah sebuah gerakan yang sangat berpengaruh dalam memperjuangkan kebebasan Muslim Moro. Namun, secara de jure tidak ada lagi. yang sudah ditinggalkan karena sudah pecah pasukannya.

MNLF pecah menjadi Moro Islamic Liberation Front / Front Pembebasan Islam Moro (MILF) dan yang paling belakangan adalah Kelompok Abu Sayyaf yang terbentuk pada tahun 1989. Ketiga kelompok gerakan ini memiliki  tujuan yang sama yakni ingin mendirikan sebuah negara teokrasi islam di Mindanao Filipina Selatan dan pembangunan ekonomi di wilayah mereka.

Pada tahun-tahun pertama, kelompok Abu Sayyaf banyak melakukan penculikan penduduk lokal, dan level kemampuan mereka meningkat disebabkan oleh banyaknya anggota mereka adalah direkrut dari kelompok-kelompok yang tidak sejalan dengan perjuangan MNLF ataupun MILF.

“Di satu daerah dikuasai masing-masing sempalan. Salah satunya kelompok Abu Sayyaf. Karena mereka bukan tentara reguler yang dibiayai negara, maka mereka cari peluru masing-masing, kasih makan prajurit juga masing-masing sebagai tanggung jawab komandannya,” terang TB Hasanuddin.

TB Hasanuddin punya basic menjadi military observer di Mindanao, disana daerahnya berbukit terjal, gunung, sungai, terpisah oleh pulau-pulau kecil dan hutan tropis basah. Kelompok ini pernah dikepung tentara Filipina dibantu tentara Amerika di Jolo, namun tak berhasil melumpuhkannya. Mereka sejak lahir itu menyatu dengan medan alam nya, karena itu mereka lebih bisa survive dan mampu melakukan pertempuran gerilya. Terakhir pekan lalu, 18 tentara Filipina gugur ketika berusaha menumpas gerombolan ini.

“Kita juga tidak tahu apakah 10 orang WNI kita itu ditempatkan dalam satu tempat, atau berpencar. Kalau berpencar di daerah manakah disembunyikan dan berapa pasukan yang menjaganya. Ini penuh resiko, jika kita mau langsung menyerangnya melalui operasi militer,” tegasnya.

Pertimbangan TB Hasanuddin semata-mata untuk mengutamakan keselamatan semua pihak baik sandera dan tentara kita itu sendiri. Azas kehati-hatian dengan mempertimbangkan segala aspek, dia lebih setuju dibayar saja dengan tebusan yang diminta sebesar 15 M. Dilihat dari biaya, secara operasional pembebasan bisa lebih membengkak dari nilai yang diminta perompak tersebut.

Namun, dia mengaku memiliki cara yang lebih elegant sehingga harga diri bangsa bisa ditegakkan tanpa harus tunduk dengan gerombolan perompak. “Harga diri bangsa tetap harus ditegakkan. Kita tidak boleh kalah sama gerombolan,” ujarnya.

Kecepatan bertindak dengan tepat adalah upaya yang harus diambil mengingat saudara-saudara kita yang sedang dalam tekanan psikis maupun pisik serta kecemasan anggota keluarganya. Disinilah empati kita sebagai bangsa. ■mtq

Ayo Berbagi!