Seminar Industri dan Perdagangan Digelar Fraksi Hanura Bersama JPIP

oleh -5 Dilihat
oleh
Suasana sesaat sebelum acara Seminar Nasional berlangsung.
banner 468x60

SwaraSenayan.com – Fraksi Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) DPR RI bersama Jaringan Pemerhati Industri dan Perdagangan (JPIP) menggelar Seminar Nasional. Seminar yang mengusung tema “Strategi dan Antisipasi Pengembangan Industri dan Perdagangan”, tersebut diselenggarakan Kamis (30 Agustus 2018) di ruang rapat KK II (Bamus) DPR RI, Senayan.

Wakil Ketua Fraksi Partai Hanura DPR RI, Capt Djoni Rolindrawan dalam sambutan saat membuka kegiatan ini mengatakan bahwa sektor industri dan perdagangan nasional sebagai barometer dari pertumbuhan ekonomi Indonesia sedang giat melaksanakan pembangunan yang berkesinambungan, yang meliputi kegiatan industri, perdagangan dan infrastruktur.

banner 336x280

Menurutnya, upaya mendorong percepatan sektor industri dan perdagangan merupakan implementasi dari nawacita pemerintahan Jokowi-JK, seperti meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar internasional sehingga bangsa Indonesia bisa maju dan bangkit bersama bangsa lain di Asia.

“Sasaran pembangunan di bidang ekonomi dalam pembangunan nasional, sektor industri dan perdagangan memegang peranan yang menentukan,” kata Capt Djoni.

Ia berharap, melalui seminar nasional ini para peserta seminar dapat berperan aktif mendiskusikan dan memberi masukan konstruktif terkait dinamika perindustrian nasional dengan mencari formulasi strategi dan antisipasi dalam pengembangan industri dan perdagangan Indonesia sehingga dapat menjadi bahan masukan berarti bagi Fraksi Partai Hanura,  khususnya Komisi VI DPR RI.

Salah satu peserta Seminar Nasional yang sedang melaukan registrasi sebelum memasuki Ruang KK II DPR RI.

Menteri Perindustrian Republik Indonesia, Airlangga Hartarto selaku key note speaker diwakili oleh Direktur Jenderal Industri Kecil Dan Menengah, Gati Wibawaningsih. Pembicara lain yang hadir diantaranya Wakil Ketua Umum Partai Hanura, Benny Pasaribu dan Dewan Pembina Jaringan Pemerhati Industri dan Perdagangan, Maizar Rahman.

Anggota dari Komisi VI (Capt Djoni Rolindrawan), Kepala Pusat Standardisasi Industri Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (Yan Sibarang Tandiele), dan Sekeretaris Direktorat Jenderal Perdagangan Luar Negeri, Kementerian Perdagangan (Marthin Simanungkalit), juga turut memberikan materi pada seminar tersebut.

Wakil Ketua Umum Partai Hanura, Benny Pasaribu dalam pemaparan materinya menjelaskan terkait strategi industrialisasi Indonesia 2045 yang fokus pada industri prioritas berbasis sumber daya dan kearifan lokal menuju negara industri maju terbesar ke-4 dunia.

Menurut Benny, sektor prioritas industrialisasi 2045 adalah industri pertanian, industri maritim, industri pariwisata, dan industri kreatif, sementara strategi kebijakan industrialisasi meliputi pengembangan sumber daya manusia, pengembangan teknologi dan daya saing, pengembangan infrastruktur, pengembangan iklim usaha dan pembinaan pelaku usaha dan wirausaha baru.

Sementara Dewan Pembina Jaringan Pemerhati Industri dan Perdagangan, Maizar Rahman dalam pemaparan materinya mengatakan, negara maju dan modern hendaknya memiliki sektor perindustrian yang mandiri dan berdaya saing global. Sehingga, tahun 2035 Indonesia sudah masuk ke dalam zona negara maju yang berpenghasilan tinggi.

“Ada empat syarat terwujudnya sasaran 2035,  yakni daya saing tinggi, kemandirian pangan, kemandirian energi dan kedaulatan sumber daya air,” jelas Maizar.

Kepala Pusat Standardisasi Industri Badan Penelitian dan Pengembangan Industri Kementerian Perindustrian, Yan Sibarang Tandiele dalam materinya menyebutkan bahwa Struktur perekonomian Indonesia secara spasial tahun 2017 masih didominasi oleh kelompok provinsi di Pulau Jawa yang memberikan kontribusi terhadap PDB sebesar 58,49 persen, kemudian diikuti oleh Pulau Sumatera sebesar 21,66 persen.

“Kontribusi Industri dalam perekonomian Nasional, industri pengolahan non-migas sebagai kontributor utama PDB Indonesia,” jelas Sibarang.

Sedangkan Sekertaris Direktorat Jenderal Perdagangan Luar Negeri, Kementerian Perdagangan Marthin Simanungkalit dalam materinya mengatakan ada masalah utama ekspor Indonesia, di samping kondisi perekonomian global, terjadinya trade war US-China.

“Ekspor Indonesia selama 50 tahun ditopang oleh Natural Intensive Products. Surplus perdagangan disebabkan karena kenaikan harga komoditas, bukan nilai tambah. Untuk itu, Indonesia akan mendorong industri berorientasi ekspor dan meningkatkan ekspor barang-barang yang bernilai tambah tinggi”, terang Marthin.

Seminar nasional ini dihadiri ratusan pelaku usaha yang hadir untuk berdiskusi terkait permasalahan yang dialami dalam kegiatan usaha mereka. Setelah tanya jawab, seminar dinyatakan selesai dan dilanjutkan dengan pembagian sertifikat. *AND

banner 336x280

No More Posts Available.

No more pages to load.