Politik Pecah Belah !

Oleh : Djafar Badjeber

SwaraSenayan.com – Tahun Politik bukan saja di tahun 2018 dan 2019 !!

Tahun politik di Indonesia sudah memanas dari sejak kemenangan pasangan Presiden Joko Widodo-Muhammad Jusuf Kalla tahun 2014 s.d. sekarang.

Sesungguhnya sadar tidak sadar mulai saat itulah dimulainya terjadi penggiringan dualisme dimasyarakat antara yang pro dan kontra kepada pemerintahan Jokowi-JK . Entah siapa yang terus mengkondisikan sehingga begitu vulgar di Media Sosial sampai saat ini. Menurut penulis salah satunya karena rakyat Indonesia sudah hampir semuanya melek tekhnologi, sehingga banyak dimanfaatkan oleh kelompok – kelompok tertentu yg mengambil keuntungan dengan menyebar berita-berita hoax di medsos ( Google, FB, WA, twitter, instagram, dll ).

Olehnya udara politik begitu membumi diseantero Indonesia.

Termasuk Politik Sektarian yang sengaja dimainkan dan digoreng terus sehingga terasa bising.

Banyak pihak yang menyatakan bahwa politik sektarian itu muncul menjelang Pilkada di DKI Jakarta.

Akibat politik sektarian itu Ahok kalah. Apakah kekalahan Ahok karena politik sektarian ?… Wallahu A’lam bissawab .

Memang politik sektarian, politik identitas tidak dilarang, akan tetapi berpotensi memecah belah persatuan bangsa.  Maka karena berpotensi memecah belah bangsa, banyak pihak yang kurang setuju dan bahkan menolaknya .

Seharusnya demokrasi itu bukan memecah belah bangsa . Sebab, urusan ketidakpuasan dalam dunia politik bisa mengundang hal-hal yang negatif. Olehnya berpolitik dengan elegan, damai, cantik dan santun!

Politik Beradab

Mencermati situasi kontemporer tersebut, kita harus kembali ke jatidiri kita, jatidiri keIndonesia-an. Masyarakat Indonesia dikenal sebagai masyarakat yang ramah, santun, beradab, toleran dan saling menghargai serta saling menghormati.

Mungkin dalam dua dekade ini telah terjadi perubahan nilai ( sosial ) dalam masyarakat dikarenakan kita kehilangan panutan. Belakangan ini hampir sulit menemukan tokoh panutan yang seringkali menjadi referensi seseorang. Tokoh panutan itu bisa di Parpol, Ormas, Pemerintah, Gubernur, Walikota, Bupati, dan ditengah masyarakat.

Biasanya tokoh panutan itu, tokoh informal.

Bahwa tahun 2018 dan 2019 adalah tahun politik, itu benar !!

Pemilihan Umum adalah manifestasi negara demokrasi berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Pemilu legislatif dan Presiden tahun 2019 ini adalah mengawali agenda ketatanegaraan dan politik nasional yang harus disukseskan oleh seluruh komponen bangsa. Pemilu ini jangan sampai cacat akibat issue politik murahan yang cenderung memecah belah masyarakat.

Pemilu legislatif dan Presiden tersebut memiliki pengaruh besar terhadap konstelasi dan jalannya pemerintahan baru 2019- 2024.

Atas dasar itu harus mampu kita kawal bersama untuk kepentingan bangsa dan negara Indonesia.

Selain politik sektarian, juga jangan sekali-kali mengungkit soal etnocentris. Itu juga berbahaya untuk persatuan kita !! Karena didalam masyarakat kita masih ada yang mengungguli suku, etnis dan ras nya. Itu politik tidak sehat sebab siapapun anak bangsa memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi pemimpin.

Umat Islam dimanfaatkan ?

Jangan sekali-kali kita melupakan sejarah, begitu kata Bung Karno.

Kata mutiara itu masih relevan untuk kita pedomani. Dalam kepemimpinan pak Harto hubungan kalangan Islam juga mengalami pasang surut. Saat pak Harto awal berkuasa, beliau hendak merangkul tokoh Islam, akan tetapi kurang berjalan mulus. Saat pak Harto membentuk Kabinet, kalangan Islam kaget karena orang yang duduk dalam Kabinet bukan representasi kalangan Islam. Dalam dua dekade umat Islam sempat berjarak dengan pak Soeharto. Tentunya umat Islam sempat kecewa karena tekhnokrat dari kalangan umat Islam tidak masuk dalam pemerintahan Soeharto.

Beberapa tahun menjelang Soeharto turun, beliau mulai mendekati kalangan Islam dengan mendirikan ICMI , Bank Mu’amalat, dll . Rupanya kedekatan Soeharto dengan tokoh Islam menimbulkan kecemburuan pihak lain yang selama itu dekat dengannya !!

Belajar dari perjalanan bangsa ini, maka jangan sekali-kali suara umat Islam dimanfaatkan oleh seseorang atau kelompok tertentu. Penulis sangat khawatir suara umat Islam hanya menjadi pendorong mobil mogok. Setelah itu umat Islam ditinggalkan !!

Ingat orang mencari kekuasaan bisa menggunakan segala cara. Jangan terkecoh dengan bujuk rayu yang tidak jelas…. !!

Dulu saat awal orde baru, tokoh Islam berpengaruh itu sangat banyak. Sebutlah ada M. Natsir, Kasman Singodimedjo, K.H. Idham Khalid, Mintaredja, M.Sanusi, Mahbub Djunaidi, M. Thayyib Gobel, Anwar Sanusi, KH. A. Syaichu, Anwar Tjokroaminoto, dll.

Serta ada tokoh muda saat itu antara lain Dahlan Ranuwihardjo, M. Husni Thamrin, Ismail Metarium, Zamroni, Nurcholis Madjid, Riduan Saidi, dll .

Mereka itu adalah tokoh besar dan berpengaruh saat itu.

Lantas kepada siapa umat Islam menaruh harapan saat ini ?…

Bagaimanapun potensi umat islam jangan hanya menjadi buih. Kelihatannya besar tapi mudah terpecah belah dan diombang ambingkan orang lain untuk kepentingan politik sesaat mereka.

Umat harus cerdas melihat arah angin, dan jangan giring umat Islam kepada sesuatu yang belum jelas !

Umat Islam Jangan jatuh Dilobang yang sama !! *SS