Oleh: Bambang Wiwoho

SwaraSENAYAN.com. Moral Islami para pemimpin dan penyelenggara negara menurut Al Ghazali sangat penting. Oleh karena itu para pemimpin harus menjalankan “siyasatul akhlak” atau membentuk “Negara Bermoral.” Sama dengan para pemuka Kristen, ia berpendapat bahwa unsur agama harus ada dan dipertahankan dalam negara. Namun demikian tidak berarti perlu “Negara Agama”, bahkan Al Ghazali menentang sekeras-kerasnya negara yang dipimpin dan dikendalikan oleh pendeta atau guru agama.

Negara Bermoral atau Negara Akhlak, menurut dia ditandai dengan 5 (lima) unsur yaitu: (1) moral – etika; (2) agama; (3) ilmu pengetahuan dan teknologi yang menjangkau pula masalah ekonomi dan sosial; (4) tasawuf; (5) politik terutama politik ekonomi-sosial-hukum.

Negara bermoral dan akhlak mulia para pemimpin pada hematnya perlu diutamakan, karena watak dan perangai rakyat merupakan buah atau hasil dari watak dan perangai para pemimpinnya. Sebab keburukan yang dilakukan orang awam hanyalah meniru dan mengikuti perbuatan para pemimpinnya. Orang awam belajar dari mereka, dan meniru watak serta kebiasaan mereka.

Mengingat peranan kepemimpinan yang sangat menentukan dalam lehidupan bermasyarakat, maka Al Ghazali menegaskan, rusak rakyat karena rusak penguasa, dan rusak penguasa karena rusak ulamanya. Semua itu membenaran kearifan yang berlaku universal, yang menyatakan pemimpin adalah teladan. Sehingga teladan yang baik akan memberikan hasil yang baik, dan demikian pula sebaliknya.

Islam telah banyak mengatur etika kepemimpinan, baik langsung di dalam Al Qur’an maupun hadits dan sunah Rasulullah SAW serta ijma’ para ulama. Semua ajaran etika dan moral dalam kehidupan bermasyarakat adalah juga merupakan etika dan moral kepemimpinan. Namun inti dari semua itu adalah amanah dan keadilan, sebagaimana firman-Nya:

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberikan kepada kaum kerabat, dan Allah melarang perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pengajaran.” (An Nahl:90).

Bagaimana keadaan di Indonesia? Baiklah sahaya kutipkan keprihatinan guru kita, ulama yang kedalaman ilmunya tak bisa diukur namun senantiasa rendah hati, yaitu Prof Kyai Ali Yafie. Dalam acara “Berbuka Puasa & Silaturahmi antar Tokoh Masyarakat, Sekaligus Mensyukuri Proklamasi Kemerdekaan RI 9 Ramadhan 1364 H (17 Agustus 1945) pada 9 Ramadhan 1426 H (17 Agustus 2005) di Jakarta, beliau menegaskan bahwa krisis multidimensi yang besar, berat dan kompleks yang kita derita selama ini, secara keimanan bersumber dari krisis moral.

Oleh karena itu upaya penanggulanggannya juga harus bertitik tolak dari reformasi moral kepemimpinan. Upaya ini harus dimulai dari pembersihan niat, perilaku dan moralitas pemimpin masyarakat atau para pemegang kendali di sektor-sektor kehidupan masyarakat, termasuk di dalamnya para ulama dan umara.

Demikianlah sahabatku, semoga kita dijadikan pemimpinan-pemimpin yang amanah dan adil di mana pun kita bertugas, serta segera dianugerahi pula pemimpin masyarakat, bangsa dan negara yang amanah dan adil, yang bisa menjadi teladan serta menyejahterakan kita semua. Aamiin. ■