Muslim Ronghinya Dibantai, FOKOSBI Serukan Usir Dubes Myanmar dari Indonesia

A Muslim woman wears a mask of Myanar's Foreign Minister Aung San Suu Kyii during a rally against the persecution of Rohingya Muslims, outside the Embassy of Myanmar in Jakarta, Indonesia, Friday, Nov. 25, 2016. The Myanmar government does not recognize the Rohingya as citizens, though they have lived in the country for generations. Persecution of Rohinyga has escalated in the past several years and they face violence instigated by Buddhist hardl-iners and institutionalized discrimination. (AP Photo/Dita Alangkara)

SwaraSenayan.com. Kembali terjadi tragedi kemanusiaan di Myanmar dipertontonkan kepada dunia atas kebiadaban militer Myanmar. Tragedi kemanusiaan ini menjadi viral karena pembantaian etnis Rohingnya dilakukan militer secara biadab, ditembak, dibakar, digantung mulai dari orang dewasa hingga anak-anak tak luput dari pembantaian.

Dengan kejadian tersebut, baik pemerintah maupun masyarakat Indonesia dari berbagai kalangan merasa prihatin dengan tragedi kemanusiaan yang terjadi di Myanmar.

“Dari dulu junta militer Myanmar terkenal biadab, pelanggar HAM berat dan anti demokrasi,” ujar Djafar Badjeber, selaku Ketua Umum Forum Komunikasi Solidaritas Bangsa Indonesia (FOKOSBI) kepada SWARA SENAYAN (31/8/2017).

Menurut Djafar, sekalipun saat ini Myanmar dipimpin oleh Aung San Suu Kyi yang konon pro demokrasi ternyata tidak berbeda dengan rezim junta militer sebelumnya yang terkenal ganas dan tidak punya belas kasihan terhadap kemanusiaan. Faktanya,  Aung San Suu Kyi tidak mengambil langkah strategis untuk menyelesaikan konflik dan terkesan hanya diam seribu bahasa ketika suku Rohingya yang mayoritas beragama Islam ditindas  dan dibantai.

Karena itu, Djafar menyerukan agar pemerintah Indonesia menyurat kepada Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) sebagai sikap bangsa Indonesia yang anti penindasan terhadap nilai-nilai kemanusian di muka bumi ini. PBB harus melakukan tindakan dan penyelamatan terhadap orang-orang muslim Rohingya yang menjadi korban pembantaian.

“PBB harus segera kirim bala tentara, tangkap para Jenderal yang memerintahkan pembunuhan dan pembantaian orang Rohingya. ajukan mereka kepada Pengadilan Internasional sebagaimana yang pernah dilakukan Karazieck cs di Bosnia,” ujar Djafar Badjeber yang merupakan tokoh senior Partai Hanura.

Djafar menyeru kepada dunia Islam khususnya Organisasi Konferensi Islam (OKI) untuk bersikap tegas kepada PBB agar memberikan sanksi kepada Myanmar.

“OKI jangan diam dong, OKI harus bersuara di PBB. Bila militer Myanmar tidak menghentikan perbuatan biadabnya ini, saya minta Pemerintah Indonesia memutuskan hubungan diplomatik dengan Myanmar dan mengusir Dubesnya dari Indonesia. Kasih pelajaran juga mereka agar tahu adab Internasional,” tegasnya.

Djafar juga meminta Myanmar untuk meniru sikap bangsa Indonesia dalam berbangsa dan bernegara yang melindungi semua tumpah darahnya tanpa melihat suku, agama dan keyakinannya. *YAN

Ayo Berbagi!
FacebookTwitterGoogle+PinterestWhatsAppEmailLine

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *