IndoStrategi Ungkap Potensi Konflik Sosial Pilkada 2017

Ayo Berbagi!
image
Rilis Survei dan Diskusi Publik IndoStrategi, Cikini 10 Mei 2016

SwaraSENAYAN.com. Pendaftaran Pemilukada DKI 2017 sudah semain dekat, genderang perang di antara kubu bakal calon (balon) Gubernur DKI pun sudah mulai terdengar. Masing-masing pihak berusaha melancarkan serangan untuk mencapai popularitas dan melemahkan kekuatan lawan. Hal ini tak mengejutkan, mengingat posisi yang diperebutkan adalah gubernur Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta, sebuah wilayah yang menjadi barometer bagi wilayah lain di Indonesia.

Seolah menghalalkan segala cara, isu SARA kerap menjadi opsi segelintir orang yang dilancarkan melalui media sosial seperti Twitter dan Facebook. Sepertu yang terjadi beberapa waktu lalu, konvensi balon gubernur pun digelar dengan tujuan mencari pemimpin beragama Islam agar dapat head to head dengan petahana Ahok yang kristiani.

Persaingan semacam ini, menurut IndoStrategi sangat berpotensi mengancam relasi sosial dan keamanan nasional dan menyebabkan konflik sosial dan berujung pada kontak fisik. Itu sebabnya, IndoStrategi, melakukan sebuah survei preferensi sosial politik pada 1-12 April 2016 dengan melibatkan 1200 responden yang dipilih secara acak di empat kota dan satu kabupaten di Provinsi DKI Jakarta. Tujuan survei ini adalah untuk mengetahui persepsi masyarakat terhadap isu-isu SARA yang saat ini sering mudah ditemui.

Diketahui dari hasil survei tersebut bahwa masyrakat ibu kota ternyata memiliki kecenderungan untuk menjaga hubungan baik antara sesama warga dan tidak mudah terprovokasi oleh isu SARA yang kerap menimbulkan konflik, sekaligus membuktikan bahwa sebagian besar masyarakat DKI Jakarta sebagai masyarakat yang menjunjung perbedaan etnik, agama dan ras.

Namun dalam survey tersebut juga ditemukan terdapat potensi konflik akibat isu-isu SARA dalam kampanye Pilgub DKI 2017. Sebanyak kira-kira 29% responden yakin bahwa masyarakat DKI Jakarta bisa terbelah oleh isu-isu SARA; sedangkan yang menentang keyakinan ini adalah sebanyak 59%, dan sisanya, sebanyak 10 %, adalah ragu-ragu.

Sementara itu, ketika ditanya mengenai kemungkinan terjadinya kerusuhan seperti yang terjadi pada peristiwa Mei 1998 itu pada momen Pilkada DKI 2017 ini, mayoritas warga DKI menjawab optimis hal tersebut tidak akan terulang dengan prosentase (62.25%), berlawanan dengan minoritas yang berpandangan sebaliknya (24.2%), dan sisanya ragu-ragu (14.6%).

Kendati memilki prosentase tidak lebih dari 25 persen, namun pendapat minoritas survey tersebut tidak bisa dianggap remeh. Menurut Direktur Eksekutif IndoStrategi, Andar Nubowo, jika masyarakat Indonesia yang inklusif, moderat dan terbuka terus-terusan dibakar dengan isu-isu SARA maka dapat memancing aksi yang berujung pada kekerasan.

Hal itu tentunya sangat beralasan, terlebih disaat munculnya isu-isu identitas yang berpotensi membelah kebhinekaan, persatuan dan kesatuan bangsa, yakni soal agama, etnik, ras golongan, dan bangkitnya komunisme.

Karenanya Andar Nubowo mengingatkan kepada para kandidat dan tim sukses masing-masing balon Gubernur DKI Jakarta untuk menciptakan atmosfir kampanye yang sejuk tanpa membawa isu SARA yang hanya akan memecah belah persatuan dan kesatuan masyarakat ibu kota. ■mtq

Ayo Berbagi!