Harkat dan Martabat Kaum Boemiputera Harus Dibela, Ora Sudi Dijajah Bangsa Pendatang

Ayo Berbagi!

boemiputra

SwaraSENAYAN.com. Pembangunan fisik bangsa ini memang sedang dan terus digalakkan di setiap sektor. Memang demikianlah amanat Pembukaan UUD 1945 untuk memajukan kesejahteraan umum. Namun, apakah proses pembangunan bangsa ini masih melaju pada rel yang dicita-citakan pendiri bangsa?

Pertanyaan inilah yang harus menjadi bahan perenungan. Demikian yang disampaikan M. Hatta Taliwang Direktur Eksekutif Institut Soekarno Hatta (ISH). Menurutnya, bagi yang sadar geopolitik dan memiliki nasionalisme maka cara pandangnya kira-kira begini, dulu Belanda juga banyak membangun rel kereta api, pelabuhan, gedung perkantoran dan bahkan dengan politik etis, manusia Indonesia juga diperhatikan pendidikannya dan seterusnya.

“Namun bagi Soekarno dan kawan-kawan harkat dan martabat kaum Boemiputera harus dibela dan ditingkatkan. Kita harus MERDEKA! Ora sudi dijajah bangsa pendatang,” tegas Hatta Taliwang kepada SwaraSENAYAN.

Apakah cara pandang tersebut rasialis? “Silahkan renungkan kembali dasar pemikiran para founding fathers memerdekan bangsa ini,” ujar Hatta.

Lanjut dia, mau dituduh rasialis atau apapun yang penting jangan bergeser pada cita-cita pendiri bangsa untuk memuliakan dan mengangkat harkat dan martabat kaum Boemipoetera.

Hatta kembali mempertanyakan, “emangnya di Inggris apakah bisa orang Muslim atau kulit hitam jadi Perdana Menteri? Emangnya di Beijing orang campuran bule dari Hongkong bisa jadi Gubernur?,” tanyanya.

Tiap bangsa punya PRIDE. Hatta mengingatkan, jangan atas nama toleransi dan pluralisme kita membiarkan bangsa kita diperkosa, dibodohi, diakali dan ujungnya dijajah. Kita harus merdeka dari penjajahan bangsa pendatang.

Hatta mengetengahkan contoh di AS atau Australia yang tidak bisa dijadikan referensi karena AS / Australia penduduk aslinya sudah dimusnahkan. Semua yang mengatur AS adalah bangsa pendatang. meskipun begitu tetap ada “kartu khusus” yang tidak tertulis, agama presidennya Kristen Protestan, kecuali Kennedy.

“Masak bangsa Indonesia tidak boleh punya kartu khusus?  Enak aja,” selorohnya.

Hatta merujuk pendapat Harris Rusli aktivis Petisi 28, jangan hanya mengagungkan demokrasi tanpa mempertimbangkan suasana batin, psikologis, sosiologis dari sebuah bangsa. Wahai yang bermental inlander sadarlah! Yang bermental dominatif serakah dan tak tahu diri bertobatlah. ■mtq

Ayo Berbagi!