EUFORIA PILKADA JAKARTA

Ayo Berbagi!

dki 1

Oleh: Hanif Kristianto (Analis Politik dan Media)

SwaraSenayan.com. Jakarta Panas Bung!! Hajatan pergantian penguasa Jakarta sudah berasa sejak tiga tahun lamanya. Setelah ditinggal Gubernur merakyat dan blusukan menurut media, Jakarta berubah wajah. Ditambah lagi keinginan incumbent untuk kembali memimpin Jakarta. Memangnya kenapa ngotot banget ingin jadi Gubernur lagi? Inilah pertanyaan selama ini di benak masyarakat di sela-sela beragam kasus dan peristiwa yang menimpanya.

Hawa panas Pilkada menyeruak sejak keinginan beberapa masyarakat dipimpin oleh Gubernur Muslim. Akhirnya ada beberapa gerakan menyatukan dalam Gubernur Muslim Jakarta (GMJ). Beberepa kandidat politisi atau birokrat muslim sudah digadang-gadang. Mulai dari mantan menteri hingga politisi. Lagi-lagi Jakarta butuh pemimpin yang memiliki hati nurani. Opini itu pun menggelinding, hingga pada puncaknya gerakan TOLAK PEMIMPIN KAFIR tak terbendung lagi.

Kuasa Allah jua yang menjadikan seorang manusia termakan oleh silat lidahnya. Al-Maidah ayat 51 mendunia dan meng-Indonesia. Umat Islam yang awalnya tidak tertarik, saat itu mulai melirik. Membuka terjemahan dan tafsir ayatnya. Sungguh luar biasa pro dan kontra terjadi. Sekali lagi itu karena kuasa Allah bahwa pemilik kekuasaan sesungguhnya hanya Dia. Bagi manusia yang mau berfikir, inilah kesempatan terbaik bagi umat untuk kembali bersatu menyatukan langkah. Momentum yang bisa bertumbuk dengan menggelorakan kembali kepada hukum-hukum Allah.

Panas Dingin

Peristiwa panas dingin gegap gempita nampaknya baru kali ini ramai dalam pembicaraan dan pemberitaan. Kecepatan informasi dimanfaatkan untuk pencitraan dan media kampanye. Upaya memobilisasi massa dan dukungan direkayasa sedemikian rupa. Sudah menjadi makanan harian di dunia maya banyak orang marah, saling hujat, dan saling umpat. Bongkar-bongkar kebohongan dan kebusukan sudah tak terelakan lagi. Informasi hoax ditebar bak jamur di musim penghujan.

Sesekali eskalasi politik meninggi panas. Sesekali eskalasi rendah dalam kondisi dingin. Sampai-sampai pihak istana kabarnya membentuk tim suksesi pilkada Jakarta. Ini fenomena baru dalam perpolitikan Indonesia. Meski sudah pernah terjadi pada masa orde baru. Perang survey elektabilitas diadakan beragam lembaga. Naik turunya dukungan terlihat dari dukungan. Tak terhitung banyaknya uang yang digelontorkan. Meski ada lembaga yang mengklaim biaya mandiri.

Opini tentang paslon pilkada dan analisanya berjibun banyak. Sorotan tajam dan kritis terkait dengan janji-janji kampanye mewujudkan Jakarta berubah. Rakyat Jakarta terbilang dewasa dalam menentukan pilihannya. Tidak bisa dipungkiri, uang masih banyak berbicara. Bagi mereka yang benar aja minta dukungan tanpa memberikan imbalan.

Justru selama ini yang meramaikan pilkada Jakarta adalah tim suksesnya. Rakyat sendiri dibuat melongo dan mengikuti arus saja. Karena memang, mereka target untuk mengeruk suara. Satu suara bagi mereka akan menentukan Jakarta lima tahun kedepan. Ceruk suara umat Islam diperebutkan Agus-Silvy dan Anies-Sandi. Sementara Basuki-Djarot ceruknya dari kalangan liberal, sekular, moderat, dan etnis tertentu. Fakta itu sudah terbukti dari baragam aktifitas kampanye, meski mereka semua mengklaim didukung umat Islam dan ormasnya.

Ujian terbesar bagi umat Islam inilah tatkala dihadapkan pada masa pemilu. Suaranya saja yang dibutuhkan untuk mendulang kemenangan. Selanjutnya ditinggal dan dilupakan. Beberapa peristiwa nyata sudah dirasakan rakyat Jakarta. Banjir dan macet menjadi masalah yang siapa pun Gubernurnya tak akan mampu mengurainya. Mengingat persoalan itu bersifat sistemis dan ideologis. Rakyat tampaknya sudah kenyang dengan janji manis yang menggiurkan. Semua berpulang kepada rakyat. Akankah mereka bangkit? Atau justru tetap diam tak melakukan perubahan?

Nasib Rakyat

Ibu kota lebih kejam dari ibu tiri. Begitu gambaran nyata keseharian di Jakarta. Ingin merubah Jakarta lebih baik dengan mempersolek infrastruktur tak akan memberikan kesan perubahan. Sementara pembangunan manusianya diabaikan untuk sekelas ibu kota. Sejatinya rakyat selama ini terdzalimi bahkan menjadi pihak yang terus disalahkan. Rakyat sering terancam jiwa, keamanan, dan kenyamanannya.

Berbagai dalih untuk tata kota rakyat kerap digusur hingga tak berdaya. Perbaikan sungai dengan menggusur penghuni bantaran sungai pun tak jadi solusi utama. Karena hal mendasar belum diselesaikan oleh pihak penguasa terkait mengurusi hajat hidup penduduk Jakarta.

Kekhawatiran panas dingin pilkada Jakarta ini tampaknya tak akan berpengaruh dalam merubah hidup. Hal yang perlu difahami dan menjadi pemikiran bersama adalah menjadikan Jakarta ini bisa diatur sesuai dengan kehendak Sang Pencipta dunia dan alam semesta. Persoalan kepemimpinan juga penting, karena dengan menjadi pemimpin mampu merumuskan kebijakan. Ada hal yang juga sama-sama penting menjadikan sistem yang digunakan betul-betul manusiawi, memuaskan akal, dan menentramkan jiwa.

Kepada siapa pun yang tengah berjuang demi menyelamatkan umat. Tak mengurangi rasa perjuangan dalam sebuah pembelaan. Jangan lupakan bahwa Jakarta butuh Pemimpin Amanah dan mau tunduk pada Syariah. Karenanya, rakyat Jakarta juga harus terus dididik dengan pemikiran politik yang sahih. Serta mendorong siapa saja yang menjadi penguasa untuk betul-betul mengurusi rakyatnya. Elemen umat juga harus bergerak serentak membongkar segala bentuk konspirasi jahat di balik meja kekuasaan. Kongkalikong penguasa dan pengusaha harus segera dibabat habis.

Panas dingin pilkada Jakarta akan terus berlanjut pada edisi berikutnya. Pilkada usai akan berganti persoalan baru yang mengrenyitkan dahi rakyat. Fakta itu menunjukan bahwa selama ini pilkada berbekal semangat euforia tapi miskin makna. Rakyat akhirnya menelan pil pahitnya. Demokrasi tak akan pernah mewujudkan, karena ia sekadar menjanjikan. Saatnya rakyat bergerak menuntut perubahan menuju kehidupan Islam. *SS

Ayo Berbagi!