DILEMA RAJA MINYAK

Ayo Berbagi!

IMG-20170130-WA0092

Oleh: Inas N Zubir (Fraksi Partai Hanura DPR RI)

SwaraSenayan.com. Disaat Arab Saudi sedang berkutat dengan perekonomian-nya yang terpuruk, negara tersebut juga harus berhadapan dengan penerapan UU Jasta (the Justice Against Sponsors of Terrorism Act) yang memungkinkan korban serangan 9/11 untuk menuntut pemerintah asing yang diduga mendukung terorisme di wilayah AS.

UU ini telah menempatkan nasib investasi Arab Saudi di Amerika Serikat terancam karena berada di tangan pengadilan AS, apalagi Trump sangat bernafsu untuk mengincar kekayaan Arab Saudi demi mengembalikan kejayaan Amerika.

Kilang minyak Saudi Aramco di Port Arthur yang merupakan kilang minyak terbesar di Amerika dengan kapasitas 635 MBCD, 26 jaringan distribusi dan ratusan SPBU nya menjadi  salah satu incaran organisasi keluarga korban peristiwa 11 September 2001.

Dalam menggalang dana untuk memulihkan perekonomian-nya, Arab Saudi telah memperoleh pinjaman senilai US$ 10 miliar, sekitar Rp 136,8 triliun, dari sejumlah bank internasional, selain itu untuk mengekspansi bisnis/industri minyak-nya di negara yang memiliki populasi penduduk yang sangat besar seperti India dan Indonesia, maka untuk pertama kalinya Saudi Aramco, perusahaan minyak negara Arab Saudi akan melepas 5% dari USD 2 Triliun saham-nya melalui IPO.

Runtuhnya perekonomian Arab Saudi tidak lepas dari murahnya teknologi sale oil/gas di Amerika dan Rusia.

Amerika dengan cadangan minyak bumi yg proven sebesar 35 Miliar barel dan Rusia dengan cadangan yang proven sebesar 87 Miliar barel dimana selama puluhan tahun sebelumnya tidak pernah mengoptimalkan pemakaian minyak bumi dalam negrinya dan lebih banyak mengeksploitasi minyak bumi di Asia dan Afrika, sekarang ini mulai mengeksploitas sale oil/gas dari dalam negeri masing-masing.

Akibatnya, pasokan minyak dunia surplus luar biasa karena di awal tahun 2015 produksi minyak bumi terbesar adalah kurang lebih Rusia 12 juta barel/day, Arab Saudi 11 juta barel/day dan Amerika 9 juta barel/day, yang menyebabkan harga minyak merosot tajam.

Kondisi ini tentunya sangat merepotkan Arab Saudi yang bergantung kepada export minyak mentah dan BBM.

Jika Arab Saudi tidak segera berekspansi ke negara-negara yang berpenduduk sangat besar dengan konsumsi BBM nya tinggi seperti Cina, India dan Indonesia, maka kebangkrutan Arab Saudi merupakan keniscayaan. *SS

 

Ayo Berbagi!